Klasik vs Digital : Nasib Media Ditentukan Iklan

Terbit: 17 Juni 2017 | 15:34 WIB

MADURA EXPOSE, SURABAYA–Sebenarnya secara klasik, nasib media massa dan pengusaha periklanan ditentukan oleh besarnya nilai iklan yang diraih sebagai income utama mereka.

” Dan itu dalam periode kemarin sangat menggembirakan, tapi sejak munculnya era digital sekitar 3 tahun ini menunjukkan tantangan berat bagi kami semua, ” lontar Ajid Swastedi, alumnus Fisip Unair yg kini bisnis dan pemerhati dunia periklanan, di tengah keluarga besar P3I ( Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia) Jatim diketuai H. Haris Purwoko dengan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jatim yang diketuai H. Achmad Munir.

Ajid mengawali dengan membuka jalur peradaban manusia, sejak ditemukan listrik dan tumbuhnya perindustrian maka lahirlah kelompok sosial analog yang terlambat merespon perubahan dan umumnya usianya di atas 50 tahun.

Disusul pesatnya teknologi informasi dengan ditandai derasnya komputerisasi, yang secara sosial peradabannya lahirlah komunitas imigran (peralihan). ” Bila diperkirakan, umurnya 30-50 tahun, ” papar Ajid, tanpa ada penolakan.

Dan, selanjutnya kata Ajid,,kini mulai trend munculnta generasi digital dengan usia 30 tahun ke bawah.

Dialog dan Silaturahim itu menarik, apalagi beberapa tokoh PWI dan P3I hadir dengan gayung bersambut.

” Alhamdulillah. Jika keluarga besar P3I ini tidak ada keluhan kepada PWI, apalagi Ketua P3I Jatim Mas Haris tersenyum,” seloroh Munir dalam sepata katanya di Resto Nine, Jumat malam (15/6), setelah buka bersama.

Tapi, sambung Munir, ada yang lupa di bulan Maret 2017 pada saat Puncak Hut PWI. ” Semoga setiap tahun di bulan Maret ada share Bilboardnya hanya 3-5 hari saja, ” tambahnya untuk mengingatkan.

Sementara Agus Bening Adv, di tempat terpisah mengingatkan kepada seluruh media massa, termasuk munculnya media syber (online) yang di Jatim ada ratusan itu, diharapkan kompetisi sehat dan kompak.

” Sungguh, kami dari P3I Jatim berharap jangan bersaing tak sehat yang sampai bertengkar sendiri. Ini bisa berakibat bisa membuat kami bingung dalam ambil kebijakan,” ungkap Agus di depan beberapa wartawan, saat merespon ada 3 wadah organisasi yang bagi media on line yang antara lain SMSI, AMDI dan AMSI.

Menurut Ajid, kunci utamanya adalah strategi komunikasinya dalam menghadapi Digital Advertising dan Digital Marketing.

Apalagi, sejak 2016 dunia bisnis iklan yg berbasis digital, kini menyerap sekitar 11% yang 3 tahun sebelumnya hanya 3% saja dari kue iklan nasional sekitar Rp 180 Trilyun, jelas Moelyono yang punya supporting iklannya koran Kedaulatan Rakyat di Semarang sebesar Rp 200 juta/bulan.

Kel Besar P3I Jatim dan PWI Jatim, foto bersama usai dialog (Dok. MaduraExpose.com

Dan disebutkan oleh Agus, bahwa media cetak JP Group, Kompas dan media cetak yang besar lainnya itu mulai drop dari sisi oplah yang pada gilirannya iklannya juga.

” Karena dunia digital dalam laju informasi mempercepat intervensi secara positif kepada konsumen, ya otomatis kita tinggal buka on line, you tube dan lainnya sehingga tak perlu baca koran lagi,” tegas Ajid yang diamini Agus dan Mulyono.(mas)

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Mimpi Buruk ‘Paman Sam’ di Tanah Persia: Mengapa Iran Sulit Ditaklukkan?

Terbit: 8 April 2026 | 04:00 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menyeret nama Iran ke pusaran spekulasi militer global. Di tengah “jurus mabuk” kebijakan luar…

Jari Netanyahu dan Nalar Sundar Pichai: Mengapa Algoritma Tak Bisa Dibodohi Narasi Receh?

Terbit: 20 Maret 2026 | 10:04 WIB Oleh: Redaksi Madura Expose Strategic PENGANTAR: DRAMA JARI VS LOGIKA DATA Dunia maya sedang gempar dengan hal-hal trivial. Media-media nasional bertransformasi menjadi “detektif…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *