Resurjensi Sang “Singa Parlemen”: Dialektika Kekuasaan dan Strategi Baru Djoni Tunaidy di PSI Sumenep

Terbit: 25 Januari 2026 | 05:15 WIB

Oleh: Ferry Arbania, Pemimpin Redaksi MaduraExpose.com

SUMENEP, MaduraExpose.com – Dalam diskursus filsafat politik, kekuasaan bukanlah benda mati yang statis, melainkan energi yang terus bertransformasi.

Niccolò Machiavelli pernah berujar bahwa seorang pemimpin harus memiliki kualitas virtù—keberanian dan kecakapan untuk menaklukkan keberuntungan (fortuna). Narasi inilah yang kini sedang dipentaskan oleh R. Ach. Djoni Tunaidy, S.Sos, saat ia resmi didapuk menakhodai DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sumenep per Desember 2025.

Kembalinya sosok yang dikenal sebagai “Singa Parlemen” ini bukan sekadar rotasi administratif, melainkan sebuah resurjensi strategis yang menjanjikan guncangan pada kemapanan politik lokal di Bumi Sumekar.

Untuk memahami bobot kepemimpinan Ra Djoni hari ini, kita harus membedah peristiwa Februari 2012 melalui kacamata strategi “War of Attrition” (Perang Attrisi). Kala itu, dalam perebutan kursi Ketua DPC Demokrat Sumenep, Djoni tidak hanya bertarung melawan angka, tapi melawan tekanan mental yang luar biasa.

Dua kali pencoblosan dalam satu sidang paripurna adalah anomali politik yang menguji batas stamina seorang pemimpin. Mundurnya kandidat-kandidat kuat seperti A. Kurdi dan A. Zahrir Ridlo menjadi bukti autentik dari eksistensi aura kekuasaan Djoni. Secara filosofis, Djoni mempraktikkan apa yang disebut Sun Tzu dalam The Art of War: “Menaklukkan musuh tanpa bertempur adalah puncak keunggulan.” Ia memenangkan mental lawan sebelum suara terakhir dihitung.

Selama masa jabatannya di legislatif, Ra Djoni merepresentasikan konsep “Vox Populi” yang agresif. Catatan resesnya tahun 2015 mengenai infrastruktur dan air bersih bukan sekadar laporan rutin, melainkan manifesto politik yang menyerang status quo. Ia memahami bahwa parlemen adalah palagan, dan suara rakyat adalah amunisinya.

Namun, dalam mandat barunya di PSI (SK 871/SK/DPP/2025), kita melihat sebuah sintesis baru. Sang “Singa” kini bermutasi menjadi arsitek politik yang modern. Struktur kepengurusan yang ia susun mencerminkan pergeseran paradigma:

  • Efisiensi Manajerial: Struktur yang ramping bersama Dafa Irwanto Saputra (Sekretaris) dan Sari Kusumaning T. (Bendahara).

  • Keadilan Distributif: Keberanian menempatkan 40% keterwakilan perempuan adalah langkah progresif yang mematahkan stigma politik patriarki di wilayah Madura. Ini adalah strategi inklusi untuk merangkul segmen pemilih yang selama ini teralienasi.

Bergabungnya Ra Djoni ke PSI adalah sebuah perkawinan strategis. PSI menyediakan kendaraan politik yang segar, digital, dan egaliter, sementara Ra Djoni menyuplai “darah” berupa basis massa tradisional, taktik gerilya lapangan, dan pengalaman birokrasi yang matang.

Secara geopolitik, Sumenep akan menjadi medan laga menarik pada 2029. Dengan rekam jejak “Pencoblosan Ganda” yang melegenda, Ra Djoni memiliki daya getar (deterrence effect) terhadap lawan-lawan politiknya. Ia adalah anomali bagi partai-partai mapan; seorang pemain lama dengan energi baru, seorang konservatif dalam nyali namun liberal dalam visi kesetaraan.


 Politik Sumenep sedang memasuki babak baru di mana narasi ketokohan kembali menjadi determinan utama. Ra Djoni tidak sedang mencari jabatan; ia sedang memulihkan martabat politik yang ia yakini sempat hilang dari ruang publik. Singa itu tidak lagi hanya mengaum, ia kini sedang mengatur formasi.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Diplomasi “Smart Kampung” Anas: Transformasi Birokrasi dari Banyuwangi ke Kabinet

Terbit: 17 Maret 2026 | 19:28 WIB JAKARTA – Perjalanan karier Abdullah Azwar Anas dari Senayan menuju kursi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) bukan sekadar cerita tentang…

Dari Sudut Kota Tua Sumenep Menuju Puncak Senayan: Kisah Inspiratif Said Abdullah Sang ‘Raja Suara’ Nasional

Terbit: 27 Januari 2026 | 03:43 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Nama Said Abdullah kini tercatat dalam tinta emas sejarah politik Indonesia. Menjadi peraih suara tertinggi nasional dengan koleksi 528.815 suara…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *