Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Terbit: 5 April 2026 | 10:12 WIB

SUMENEP – Dalam lanskap sosiologi politik Madura, relasi antara otoritas militer dan institusi keagamaan bukan sekadar silaturahmi formal, melainkan pilar strategis dalam menjaga stabilitas kawasan. Hal ini terekam jelas saat Komandan Kodim (Dandim) 0827/Sumenep, Letkol Inf Citra Persada, melakukan kunjungan kerja ke Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Jumat (03/04/2026).

Kunjungan ini secara administratif merupakan manifestasi dari koordinasi vertikal dan horizontal dalam menjaga ketertiban umum (public order). Letkol Citra Persada menegaskan bahwa kolaborasi antara TNI dan pesantren adalah kunci dalam menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks.

Integrasi Karakter Santri dalam Postur Pertahanan

Menariknya, dalam forum yang dihadiri para masyayikh tersebut, Dandim tidak hanya bicara soal keamanan teritorial, tetapi juga menyinggung aspek pengembangan sumber daya manusia (SDM). Ia mendorong santri Annuqayah—yang jumlah mukimnya mencapai 6.500 jiwa—untuk berani mengambil peran dalam pengabdian negara melalui jalur TNI.

Secara teoretis, hal ini berkaitan dengan konsep Human Resource Management di sektor publik, di mana latar belakang akhlak dan kedisiplinan khas pesantren dianggap sebagai modalitas sosial (social capital) yang sangat berharga. “Karakter santri sangat potensial. Akhlak mereka adalah fondasi utama untuk menjadi prajurit profesional yang mencintai rakyat,” ujar Letkol Citra.

Sinergi dan Administrasi Publik Modern

Pihak Ponpes Annuqayah, yang kini mengelola pendidikan dari jenjang PAUD hingga Strata Dua (S2) dengan total 10.000 pelajar, menyambut baik sinergi ini. Penegasan pengasuh tentang komitmen menjaga tradisi klasik sambil membuka diri terhadap sains merupakan bentuk Agile Governance di lingkungan pendidikan berbasis religi.

Dari kacamata administrasi publik, sinergi ini adalah upaya membangun kemitraan strategis (strategic partnership) untuk menyukseskan berbagai program pemerintah. Penutupan kegiatan dengan doa bersama dan tawasul menandai bahwa birokrasi militer di Sumenep tetap berpijak pada kearifan lokal (local wisdom) sebagai instrumen perekat sosial yang paling efektif.

HotExpose:  Dandim Sumenep Gaspol: Jembatan Ambunten & Bedah Rumah Warga

[bar/red]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Mendoakan Mafia Tambang ‘Cepat Lewat’, Bolehkah?

Terbit: 11 Maret 2026 | 12:01 WIB MADURAEXPOSE.COM – Di tengah debu galian C yang kian menyesakkan dada warga Sumenep, muncul pertanyaan teologis yang radikal namun jujur: Bolehkah kita mendoakan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *