13 Kilogram Emas Hitam Sejarah: Kala Cangkul Sang Kepala Sekolah Membongkar ‘Bank’ VOC di Tanah Pejagan

Terbit: 9 Februari 2026 | 08:34 WIB

MaduraExpose.com– Takdir seringkali datang tanpa mengetuk pintu. Bagi Nuryasin, seorang abdi negara yang menjabat sebagai Kepala SDN Pejagan IV, Madura, garis hidupnya bersinggungan dengan sejarah besar hanya karena urusan halaman sekolah yang becek. Siapa sangka, tanah berlumpur yang dianggap masalah, justru menjadi “brankas” rahasia peninggalan kolonial yang telah terkubur selama ratusan tahun.

Kisah dramatis ini bermula di bawah langit Madura yang baru saja menumpahkan hujan deras. Halaman sekolah yang menjadi tempat bermain siswa berubah menjadi genangan air dan lumpur yang mengganggu kenyamanan. Tergerak oleh rasa tanggung jawab, Nuryasin meraih cangkulnya. Niatnya sederhana: mengambil tanah kering untuk menguruk bagian yang becek.

Namun, saat mata cangkul menghujam kedalaman tanah sekitar 30 sentimeter, ia merasakan benturan keras yang tak biasa. Bukan batu, bukan pula kayu. Sebuah wadah gerabah tua menyembul dari perut bumi, seolah sengaja menampakkan diri setelah berabad-abad “bersembunyi” dari peradaban.

Harta Karun dalam Wadah Tembikar Rasa penasaran membawa Nuryasin untuk membongkar gerabah tersebut. Begitu tutupnya terbuka, kilauan kusam namun berwibawa muncul dari ribuan koin kuno yang menumpuk di dalamnya. Temuan ini bukan sekadar uang recehan kuno, melainkan artefak sejarah dari era kejayaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Laporan mendalam mengidentifikasi adanya dua periode sejarah besar di dalam satu wadah tersebut. Kelompok koin pertama adalah saksi bisu era 1746 hingga 1760, masa di mana VOC sedang mencengkeram kuat jalur perdagangan Nusantara. Sementara kelompok koin kedua, yang lebih lebar dengan tulisan Indiae Batav, merujuk pada tahun 1819 hingga 1828—periode transisi kekuasaan setelah runtuhnya kongsi dagang tersebut ke tangan Pemerintah Hindia Belanda.

Godaan Miliarder dan Integritas Guru Temuan seberat 13 kilogram koin perak ini praktis memicu kegemparan. Secara ekonomi, nilai sejarah dan kandungan logam mulianya ditaksir mencapai miliaran rupiah. Di titik inilah, integritas seorang guru diuji. Gelombang spekulasi datang dari berbagai penjuru; banyak yang membisiki agar harta karun itu dijual ke kolektor gelap demi kekayaan instan.

Nuryasin berdiri di persimpangan jalan antara menjadi miliarder baru atau menjadi pahlawan sejarah. Tanpa ragu, ia memilih jalan yang kedua. Ia menolak segala godaan harta pribadi dan dengan teguh hati memutuskan bahwa temuan tersebut adalah milik negara dan harus menjadi objek pengetahuan di museum. Sebuah keputusan yang membuktikan bahwa marwah seorang pendidik jauh lebih tinggi daripada tumpukan perak 13 kilogram.

Singkap Tabir ‘Duit’ di Pulau Garam Penemuan di SDN Pejagan IV ini sekaligus merobohkan anggapan lama bahwa masyarakat Nusantara hanya mengenal barter. Sebaliknya, tanah Madura sekali lagi membuktikan posisinya sebagai titik penting dalam sirkulasi ekonomi dunia sejak lama.

Koin-koin jenis doit yang ditemukan Nuryasin merupakan cikal bakal sebutan “duit” yang kita gunakan sehari-hari. Penemuan ini menunjukkan bahwa ratusan tahun lalu, di bawah tanah tempat anak-anak Madura belajar hari ini, pernah terjadi aktivitas ekonomi yang kompleks.

Kini, Nuryasin mungkin tidak memiliki saldo miliaran rupiah di rekeningnya, namun namanya abadi dalam catatan arkeologi nasional. Ia bukan hanya membersihkan lumpur di halaman sekolahnya, tetapi ia telah membersihkan debu sejarah yang menyelimuti masa lalu Madura.

(Red/Madura Expose)

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Ganas di Berita, Tapi Begini Gaya Bos Madura Expose Taklukkan 5 Kepiting Gede!

Terbit: 3 April 2026 | 20:41 WIB SUMENEP – Dunia jurnalistik investigasi seringkali identik dengan ketegangan dan tumpukan dokumen kasus yang menguras energi. Namun, bagi Redaktur MaduraExpose.com, laut utara di…

Ekonomi Panggung: Menakar Perputaran Uang di Balik Industri Hiburan Rakyat Sumenep

Terbit: 17 Maret 2026 | 19:19 WIB “Dinamika hiburan panggung di masa lalu sering kali terjebak pada sisi luar yang bersifat artifisial. Namun, seiring dengan kedewasaan publik dalam mengonsumsi konten,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *