Sukmamu Dirasuk Pongah
Poem by:Ferry Arbania

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Kata siapa penyair bebas menyindir
kata akhir dan kosa kata yang salah tafsir
Kuda jalang melintas digerbang istana keyakinanmu, jalang!

langit berdzikir
adzan berkumandang
Kau bilang tak paham syariat islam
Puja puji dan kidung ombak bersahutan

nalar yang tak sepaham itu
Adalah sukmamu yang mabuk dalam kepura-puraan
getah hutan, hujan serapah dan cadar bidadari
Mulutmu,harimaumu, keruh nalar mengaduh,berserakan dalam takabbur mu yang palsu dan babak belur.

Oi, betina yang diawetkan pongah
Lihatlah, tanah air kita kian menua
Gubuk-gubuk mengalir deras perselisihan
Bumi dan alam tafsir mulai terkoyak
Kain kafan sejarah yang selalu kau banggakan itu
Tak kan sanggup menutupi ketelanjanganmu yang sia-sia.

Sehelai benang, selembar ucap
Bayangan masa lalu dan kemerdekaan hati yang kau sakiti sendiri,
Bulan tergelincir dikelopak matamu yang sinis.

Belajarlah pada khadijah, yang setia mamamcarkan mata air cinta, jadilah Soekarno, meski kau tak menjelma juga sebagai proklamator.
Kuda betina yang pemalu dan tangguh, tak kan pernah merumput dipadang hijau yang memerah, apalagi salah kaprah.

Ladang kebaikan, hati yang teduh, tahajjud jiwa para aulia di negeri ini, pendahulu yang perkasa, kesatria yang gagah berani, tak henti-henti mereka menyulut takbir, sampai pagi, sampai subuh berkumandang, penjajah pergi, sang saka memandu ayat-ayat perjuangan, bismillah,kita merdeka.

Sudah rontokkah benteng iman yang memagari kemanusiaanmu,
Sudah jenuhkah menara hati menyerukan adzan, akal sehat
Yang kekal merawat perbedaan dengan kidung kebersamaan.

Hei, sari konde yang meradang dikepalamu,
BuSuk sudah keranda waktu kita
Pujian yang ditenggelamkan durjana
Perahu nuh dan kidung ombak yang menenggelamkan anak sang Nabi

HotNews:  Tak Hanya Media, Warga Biasapun Jadi "Korban" Nyinyir Wakil Ketua DPRD Sumenep,Kemana Soengkono?

Hari ini, kita riuh menghafal angkatan perang, dari kalimat suci yang kau nistakan,
Reformasi dan pekik kemerdekaan yang terulang,
Kandang politik dan tanah Jakarta yang memutih,
Berapa kilomterkah jarak tempuh keadilan di negeri ini?

Ludah yang terbuang disemenanjung luka,
Kusaksikan wajahmu berlumur keruh
Hujan Kritik dan lumpur yang mengecam
Kini berganti anyir darah
Dan isak tangis kepura-puraan.

Hari ini kita bersumpah kembali diatas mimbar sakwa sangka,
hutan jiwa dan pohon kurma

Oh, tanah airku
Yang basah air mata
Terbangkan wajah nista itu bersama angin sakal,
Biarkan tangan kami bergandengan
Menyulam benang cinta dan kebersamaan
Sebab kutahu, republik ini bukan milik siapa-siapa
Indonesiaku, berkibarlah
Dalam aroma surgawi
yang memapah peluh para syuhada.

***