SUMENEP – Guncangan gempa bermagnitudo M yang menghantam Sumenep pada Selasa malam () bukan hanya peristiwa sesaat, melainkan sebuah lonceng bahaya yang berdering nyaring.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan keras: wilayah Sumenep berada dalam cengkeraman sesar aktif yang memiliki riwayat panjang kehancuran. Gempa ini dikhawatirkan hanyalah “pemanasan” dari potensi ancaman yang lebih besar.
Bangkitnya Sesar ‘Madura Strait Back Arc Thrust’
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengonfirmasi fakta mengerikan bahwa episenter gempa berada di laut dangkal, hanya kilometer di bawah permukaan.
Gempa ini diklasifikasikan sebagai tektonik kerak dangkal, dipicu oleh pergerakan pada perpanjangan sesar offshore Zona Kendeng atau yang dikenal sebagai Madura Strait Back Arc Thrust—sebuah sesar naik (thrust fault) yang agresif.
“Gempa ini adalah jenis tektonik kerak dangkal akibat aktivitas sesar aktif di dasar laut,” tegas Daryono. Sifat dangkal inilah yang menjadikan getaran begitu mematikan, langsung mentransfer energi ke permukaan dan menyebabkan intensitas V–VI MMI di Pulau Sapudi yang merobohkan puluhan bangunan.
Korban Kerusakan dan Catatan Darurat Gempa Susulan
Dampak gempa M ini nyata dan merusak. Laporan awal mencatat bangunan rusak di Pulau Sapudi, dengan variasi kerusakan ringan hingga berat.
BMKG menyoroti bahwa kerusakan parah ini terjadi bukan semata karena kekuatan gempa, melainkan karena kombinasi antara hiposenter dangkal, kondisi tanah lunak, dan keterbatasan standar bangunan tahan gempa yang dimiliki warga.
Kondisi lapangan diperparah oleh aktivitas seismik yang belum mereda. Hingga Rabu siang (), BMKG mencatat gempa susulan telah terjadi, dengan magnitudo terbesar mencapai . Ratusan guncangan ini adalah bukti nyata bahwa sesar di bawah laut Madura sedang aktif.
Sumenep Terperangkap dalam Sejarah Kelam Bencana
Peringatan dari BMKG semakin genting ketika melihat catatan sejarah. Sumenep dan sekitarnya terbukti telah menjadi sasaran empuk bencana gempa merusak sejak abad ke-:
- Gempa destruktif terjadi pada tahun , (Sumenep-Sapudi), dan .
- Dalam catatan modern, Gempa M pada Oktober menewaskan tiga orang dan merusak rumah, serta serangkaian gempa M hingga M yang terus merusak bangunan hingga tahun .
“Catatan ini menunjukkan bahwa wilayah Sumenep memang rawan gempa. Masyarakat harus segera meningkatkan kesiapsiagaan,” pungkas Daryono.
BMKG menginstruksikan masyarakat di Jawa Timur agar tetap waspada dan tidak panik, namun mereka harus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan.
Ancaman nyata ini menuntut respons cepat dari warga: memastikan struktur rumah tahan gempa dan hanya merujuk pada informasi resmi dari BMKG, BNPB, dan BPBD. Kegagalan untuk bersiap dapat berarti menanti kehancuran berikutnya. [dbs/gim]


















