LOMBOK, MADURAEXPOSE.COM–Matahari mulai condong keufuk barat, sebanyak 30 orang pelaku usaha wisata Sumenep menyusuri jalan raya yang mulai tampak licin, dengan mengendarai bus pariwisata khusus yang disediakan untuk para pengunjung. Jarum jam menunjukkan pukul 15,30 WIB. Seluruh rombong memutuskan untuk melakukan shalat ashar bersama disalah satu masjid dekat rumah Kepala Desa Puyung, Lombok Tengah, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Usai shalat ashar rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kampung Tenun Suksare, Desa Sukarare, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) yang sejak puluhan tahun silam terkenal sebagai salah satu daerah penghasil kain tenun terbesar di NTB.

Saat tim liputan Maduraexpose.com berkunjung bersama 30 pelaku usaha wisata Sumenep ke Kampung Tenun itu, tampak dua perempuan cantik sedang menenun. Mereka bertutur, untuk menghasilkan satu songket, dalam satu bulan kadang hanya menghasilkan satu produksi. Hal itu, yang membuat hasil tenunan menjadi mahal.

“Harganya bisa jutaan rupiah Mas. Tergantung barang tenunannya. Paling murah untuk kain biasa seharga Rp 300 ribu,”ujar Yatik salah satu warga yang mengaku sudah lebih 20 tahun menjalani profesinya sebagai tukang tenun.

Hasil dari untaian-untaian benang yang dihasilkan dari pemintalan sederhana itu dijalaninya dengan penuh telaten hingga menghasilkan kain indah bertabur motif-motif aneka warna nan indah.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

“Kami bekerja selama 8 jam tiap hari Mas. Bagi kaum perempuan di desa kami, menenun benang menjadi kain adalah pekerjaan yang dilakukan secara turun-temurun. Bahkan disini, seorang gadis tidak boleh menikah sebelum bisa menenun. Hal ini sudah menjadi tradisi yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat, “pungkasnya. [Ferry Arbania]