Raskin Tak Dicairkan, AKD Lurug Kantor Bupati Sumenep

0
731

SUMENEP, MADURA EXPOSE- Kisruh jatah beras miskin (raskin) tahun 2015 yang hingga saat ini belum dicairkan oleh pihak Bulog Sumenep, Madura, Jawa Timur megundang kemarahan dikalangan Kepala Desa (Kades) yang langsung mendatangi kantor Pemkab setempat, Rabu (2/3/2016).

Kedatangan sejumlah Kades itu disambut Bupati Sumenep A.Busyro Karim dan Wabup Achmad Fauzi, Sekdakab, Kabag Perekonomian dan Kepala Bulog Sumenep Ainul Fatah alias Minul. Pertemuan diruang tertutup itu berlangsung sekitar 4 jam itu berlangsung alot. Sejumlah wartawan yang hendak meliput koordinasi raskin terpaksa gigit jari karena tidak diperkenan meliput.

Namun informasi yang berhasil dihimpun dari sejumlah Kades usai pertemuan menyebutkan, kisruh soal distribusi raskin sepanjang tahun 2015 itu bermuara dari pihak Bulog Sumenep dan Divre XII Madura.

“Setelah kami desak pihak Bulog, baru terungkap jika uang penebusan raskin yang sudah disetor teman-teman kepala desa selama ini kata pihak Bulog malah ‘dititipkan’ ke salah satu Bank terkenal cabang Sumenep”, ujar HM.Hasan Abd Hamid, Ketua Asosiasi Kepala Desa (AKD) Kabupaten Sumenep usai pertemuan dengan sejumlah pejabat terkait, Rabu siang.

Pria nomor satu di Desa Karang Sokon, Kecamatan Guluk-Guluk ini mengaku sangat menyesalkan tindakan Bulog Sumenep dan Divre XII yang terkesan sengaja memperaminkan kepala desa dengan menahan raskin yang seharusnya disalurkan ke masyarakat sejak tahun 2015.

“Tadi Pak Bupati juga menyampaikan dalam pertemuan, bahwa kisruh raskin ini karena Bulog yang memang tidak beres”, tandasnya.

Pihaknya bersama sejumlah mengecam keras arogansi pihak Bulog yang selalu mencari akal untuk mengelabui pendistribusian raskin.

“Coba pikir Bang, masa pihak Bulog minta kami menebus rsakin yang jatah 2016, sedang jatah raskin 2015 yang nota bener sudah kami tebus, sampai sekarang berasnya belum diberikan. Bulog ini aneh sekali dan tindakannya sangat merugikan warga miskin”, pungkasnya.

Sementara Minul, Kepala Bulog Sumenep, ketika hendak dimintai keterangan buru-buru meninggalkan kantor tanpa sepatah katapun.