Qatar dan Arab Saudi Bersaing di PGCC

0
1055

MaduraExpose.com- Aksi WikiLeaks yang membongkar ulah Qatar untuk menggagalkan pemilu presiden di Yaman dan transisi kekuasaan kepada Abd Rabbuh Mansur Hadi dengan menggelontorkan dana sebesar 250 juta dolar, merupakan buki lain yang mengindikasikan bahwa Dewan Kerjasama Teluk Persia (PGCC) adalah dewan yang penuh dengan kepentingan saling kontradiksi antara sesama anggota, khususnya antara Qatar dan Arab Saudi.

PGCC, sebuah organisasi Arab yang meski memiliki kesamaan background di antara anggota, namun konvergensi di antara mereka rendah dan kontradiksi kepentingan di antara anggota tinggi. Enam negara anggota PGCC adalah Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Oman dan Kuwait.

 

Dewan ini sejak tahun 2011 berubah menjadi lembaga yang pasif dan tidak berpengaruh. Kinerja dewan ini sekedar menggelar pertemuan rutin dan merilis statemen pengulangan. Namun seiring dengan meletusnya kebangkitan rakyat di negara-negara Arab di tahun 2011, dewan ini dijadikan alat oleh anggota, khususnya Arab Saudi.

 

Arena terpenting yang menunjukkan peran PGCC di krisis dunia Arab sejak tahun 2011 dan selanjutnya dalah krisis Bahrain dan Yaman. Di krisis Bahrain, Arab Saudi dalam kedok pasukan Perisai Jazira bersama Uni Emirat Arab dan Kuwait mengirim pasukan ke Manama. Sementara negara seperti Qatar dan Oman tidak turut ambil bagian dalam program tersebut.

 

Oman tercatat sebagai negara anggota PGCC yang tidak berminat mengirim pasukan ke negara Arab lainnya. Namun Qatar dengan sikapnya yang tidak ambil bagian dalam militeralisasi ke Bahrain, menunjukkan bahwa Doha menentang gagasan Arab Saudi.

 

Sementara di krisis Yaman, PGCC dengan pimpinan Arab Saudi kembali memainkan peran aktif dan tujuan dari usaha dewan ini adalah mencegah kemenangan revolusi rakyat Yaman. Pengunduran diri Ali Abdullah Saleh dari tampuk kekuasaan dengan imbalan kekebalan hukum dan penyelenggaraan pemilu sandiwara adalah prakarsa PGCC pimpinan Arab Saudi guna menghalangi kemenangan revolusi rakyat Yaman.

 

Meski demikian kontradiksi antara Qatar dan Arab Saudi di krisis Yaman dan Bahrain sedemikian transparan, karena ketika pemerintah terguling Yaman pimpinan Ali Abdullah Saleh yang mendapat dukungan Arab Saudi, berulang kali memprotes pemerintah Qatar.

 

Alasan protes pemerintah Saleh waktu itu adalah mereka meyakini bahwa Qatar mendukung kubu oposisi Yaman dan televisi Aljazeera juga menyiarkan program mendukung oposisi.

 

Kini dokumen yang dirilis Wikileaks terkait penggelontoran dana sebesar 250 juta dolar oleh Qatar untuk menggagalkan pemilu presiden Yaman di tahun 2012 membuktikan bahwa Doha berusaha menunjukkan diri bukan sebagai rival Arab Saudi secara terang-terangan. Strategi Qatar ini sama halnya mengindikasikan bahwa di tubuh PGCC kontradiksi kepentingan sangat tinggi. (IRIB Indonesia/MF)