Prongpong dalam sejarah peradaban Sumenep

Terbit: 5 Agustus 2020 | 04:03 WIB

[vc_row][vc_column][vc_column_text]MADURAEXPOSE.COM- Prongpong atau Parongpong (sebagian lagi melafalkan Prompong) merupakan salah satu wilayah tertua dalam sejarah peradaban Sumenep.

Di daerah ini, sejak sekitar abad 14, diyakini lentera Islam mulai berpijar dan sekaligus bersinar di kawasan Madura Timur.

Dua tokoh pertama kali disebut sebagai Pembabat wilayah Prongpong adalah Kiai Astamana dan Kiai Andasmana.

Kedua tokoh ini sejatinya adalah para pangeran Sumenep yang keluar dari tembok keraton.

Dalam genealogi raja-raja Sumenep, Astamana dan Andasmana adalah dua dari beberapa anak Pangeran Bukabu (Notoprojo, Keraton Bukabu), raja Sumenep pada 1339-1348 Masehi.

Tahta Sumenep rupanya berpindah pada saudara Pangeran Bukabu, yaitu Pangeran Notoningrat, yang dikenal dengan Pangeran Baragung (Keraton Baragung).

Pangeran Baragung memerintah pada 1348-1358 Masehi.

Kembali pada Kiai Astamana dan Kiai Andasmana, keduanya bermukim di tempat yang dikenal dengan nama Prongpong hingga saat ini.

Wilayah ini berada tidak jauh atau di sebelah timur dari Bukabu (bekas Keraton Bukabu).

“Dulu Prongpong diperkirakan agak luas, dan di masa selanjutnya terjadi pemekaran dan muncul nama-nama daerah baru di sekitarnya,” kata RB Ja’far Shadiq, salah satu pemerhati sejarah Sumenep, Rabu (15/07/2020).

Saat ini Prongpong menjadi nama sebuah kampung di Desa Kecer, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep.

“Tidak ada kisah tentang sejak kapan disebut Prongpong. Tapi jika mengacu pada sosok Kiai Astamana dan Kiai Andasmana, diperkirakan memang sudah dikenal sejak abad 14,” kata Faruq Dardiri, salah satu tokoh muda di Prongpong.

Namun menurut Faruq terdapat kisah turun-temurun bahwa Prongpong berasal dari kata rampong atau parampong.

“Rampong atau rampung. Jadi konon di sinilah semuanya bisa menjadi rampung,” kisah Faruq.

Kiai Astamana dan Kiai Andasmana selanjutnya dikenal sebagai leluhur ulama dan sekaligus umara.

Dari kedua tokoh ini, kiai-kiai agung di Madura Timur bermunculan. Dan dari para ulama tersebut, pada abad 17 lahirlah Bindara Saot, legenda Keraton Sumenep yang menjadi pembuka munculnya dinasti terakhir (1750-1929) yang mengakar pada kalangan santri. (Han/Fer)

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

MADURA EXPOSE

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Sidak Pasar Anom: Kapolres Sumenep Pastikan Stok Minyakita Aman dan Harga Stabil

Terbit: 21 April 2026 | 23:20 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Menjaga stabilitas rantai pasok bahan pangan strategis, Kapolres Sumenep AKBP Anang Hardiyanto, S.I.K., melakukan inspeksi mendadak (sidak) ketersediaan minyak goreng…

10 Hari Menuju Sensus Ekonomi 2026: Menakar Ulang Nadi Ekonomi Sumenep

Terbit: 21 April 2026 | 22:50 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Sepuluh hari tersisa sebelum hajatan besar data nasional, Sensus Ekonomi 2026, resmi digelar. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep kini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *