PDIP Deklarasikan Achmad Fauzi- Dewi Khalifah, Pengamat Pesimis Bisa Menang!

0
497
Deklarasi Achmad Fauzi- Dewi Khalifah oleh DPC PDIP Sumenep/Istimewa

[vc_row][vc_column][vc_column_text]MADURAEXPOSE.COM, SUMENEP- Baru beberapa jam di deklarasikan PDI Perjuangan, sosok Achmad Fauzi yang dipasangkan dengan Dewi Khalifah oleh partai berlambang banteng moncong putih itu sudah menuai kritikan dari kalangan warganet.

Rausi Samorano seorang Netizen malah menulis panjang lebar tentang dua sosok yang direkom PDI Perjuangan dalam Pilkada Sumenep 2020 tersebut. Dalam tulisan panjang di halaman facebooknya itu dia bahkan meragukan dua sosok tersebut bisa memenangkan pertarungan nantinya.

Rausi yang diketahui adalah seorang pengacara ini bahkan dengan nada menyindir
Mempertanyakan keseriusan Achmada Fauzi.

“Serius AF mau nyabup dengan modal segitu. Hampir 5 tahun dia jadi wabup, apa yg bisa “dijual” dari AF…? Program visioner…? Blusukan Produktif dan berkwalitas…? Atau hanya style merakyatnya saja?,” demikian akun Rausi Samorano dikutip Maduraexpose.com, Minggu 21 Juni 2020.

Tangakapan layar facebook Rausi Samurano

Lebih lengkapnya, Redaksi sudah meminta ijin kepada pemilik akun untuk mengunggah tulisan panjangnya tersebut di laman MaduraExpose.com tanpa dilakukan edit sedikitpun.

Berikut catatan panjang Rausi Samorano yang diberinya judul “Catatan untuk deklarasi Cabup-Cawabup Ach.Fauzi-Eva”.

Setelah bebrapa bulan vakum dari hiruk pikuk percaturan politik daerah gegara Pandemi Covid19 diiringi dengan diterapkannya New Normal sy mulai “keluar Sangkar” dan kembali menyaksikan dinamika politik yg mulai menggeliat kembali. Sebanarnya kemarin saya pingin sekali mengulas tentang Mas. Khairul yg seakan “Dikhianati” oleh partainya sendiri cuma karena momentumnya sudah lewat sy urung.

Td pagi sy baca berita media daring tentang rencana deklarasi Cabup-Cawabup Ach. Fauzi-Dewi Khalifa (AFEVA) yg d usung koalisi PDIP-PAN sebagaimana tulisan sy sebelumnya akhirnya PAN benar2 merapat ke PDIP sesaui prediksi bararti PAN berfikir taktis dan tak mau hanya jadi PartisiPAN saja dalam momen pilkada.

Sebenarnya Sy masih penasaran dengan kekuatan pasangan AFEVA ini yg sepintas powernya “diatas angin” menurut percaturan di warung kopi. Tp apa benar….? Mari kita lihat.

ACH. FAUZI boleh dibilang adalah calon Bupati InCumben (walau tdk 100% karena bukan bupati tapi wabup saja) dalam rilis salah satu lembaga survey yg sy baca (2 lembaga Survey) bln Nopember lalu AF memang unggul peringkat teratas tingkat elektabilitasnya secara personal dari calon2 lain,(Tidak menggunakan simulasi cabup-cawabup) berapa..? 9 %,

Sy tak yakin dan kurang percaya masa incumben dengan segala usaha dan mobilitas politik dan sumberdaya yg melimpah “hanya” 9%. Sy baca ulang memang benar 9%. Tp itu bulan Nopember kemarin sekarang sdh bulan juni mari kita asumsikam AF naik dua kali lipat dari hasil survey seblumnya menjadi 18%. Lah…. 2 kali lipat masih 18 %…??? Incumben…??? Dengan segala fasilitas dan saluran politik pencjiraannya…???

Dengan progam dan anggaran yang bisa “Dimanfaatkan” ?. Ah… Saya ga yakin. Ok.. Kita naikkan lagi aggaplah AF naik luar biasa dan”Bombastis” 3 kali lipat menjadi 27%. Ya.. Ini 3 kali lipat dalam hitungan bberapa bulan. Jika 23 % nya itu adalah milik lawan politiknya yg lain berarti mash ada 50 % Flooting Mass yg tak menyatakan memilih siapa…. Dan jangan d anggap massa mengambang ini tidak punya pilihan, ini harus d asumsikan adalah pemilih yg tak akan memilih incumben sehingga tidak mendeclair pilihannya karena beberapa alsan, Wah….

Pertanyaannya.. Serius AF mau nyabup dengan modal segitu. Hampir 5 tahun dia jadi wabup, apa yg bisa “dijual” dari AF…? Program visioner…? Blusukan Produktif dan berkwalitas…? Atau hanya style merakyatnya saja? Ini dalam posisi Biliau belum ada LAWANNYA, belum di serang dari berbagai arah oelh lawan politinya, dan belum ada lawan yg mendapatkan rekom resmi dari partai,dalam posisi “Duduk tenang” saja elektabikitasnya AF menghawatirkan apalagi nanti setelah lawannya diketahui.

Idealnya seorang incumben harus memilki tingkat elektabilitas diatas 40% lebih. Baru sedikit aman. Apakah AF dan timnya belum bisa memanfaatkan “Fasilitas” politic yg tersedia? Hem….. (coba tanya TIMnya)

Calon Wapubnya Nyai. H. Dewi Khalifah. (Nyai. Eva). Beliau politisi perempuan sumenep yg cukup mumpuni 2 kali nyalon wabup dan bbrpa kali nyalon Dewan. Tp dalam pemilihan figur yg mau diusung oleh parpol pasti ada banyak varible dan pertimbangan electoral. Pertanyaan sederhananya adalah Siapa dia… Punya apa dia..?
Memilih Nyai Eva sebagai calon Wabup dari AF pasti sudah ada pertimbangan politik dan electoral, beliau ketua Muslimat NU. Apa beliau punya tingkat keterkenalan yg cukup tinggi… OK. Apakah seirama dngan tingkat elektoralnya… Belum tentu.

Beliau punya apa? Beliau punya Partai,sebagai ketua HANURA.. Ok. Apakah cukup kuat dan membantu tingkat elektoralnya..? Belum tentu karena HANURA tak cukup 1 Fraksi pun d DPRD Sumenep, Dana….? Beliau 2kali nyawabup bisa diprediksi sendirilah. Lalau apa yg bisa “diandalkan”; Muslimat NU. Sebagai ketua muslimat NU beliau diharapkan bisa gunakan ini untuk mendokrak tingkat keterpilihannya tp apakah beliau mampu “Mengkapitalisasi” Suara NU dan khusunya muslimat NU dan menjadikan keuntungan elektoral?

Apakah Muslimat NU bisa satu suara dan memilki effort politik sektoral yg tinggi,Punya ghirah untuk memenangkan ketuanya, punya semangat Ideologis untuk “Berjihad” bahkan berkorban sendiri, Dortodor berkampanye demi memenangkan Nyai Eva? Padahal bisa jadi lawan politiknya juga dari kalangan tokoh NU dan berusaha mengeruk suara dari ceruk yg sama? Jika tidak bisa mengkapitasi suara Nahdiyin khusunya muslimat maka perlu kerjkeras dan berfikir cerdas lagi apakah nya EV menguntungkan atau malah jadi beban bagi AF..??? .

Jika kondisi cabub AF seperti diatas dan Nyai. Eva seperti ini. Apa benar PDIP berani dan serius mencalonkan keduanya? Kecuali punya jurus andalan dan strategi dan taktis luarbiasa mematikan yg d masih disimpan. Dan….. Sy lanjut nanti saja ulasannya pengamat Partelonan ini. Sory… Ini pandangan pribadi sy sebagai pemgamat Partelonan smbil.nyicipi kopi tamer. Bisa jadi Asumsi saya ini terkontaminasi hitamnya seduhan kopi TAMER. Jd mafhum saja ya.

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]