Menggetarkan Jiwa, Pesan Kiai Sahli Hamid Di Acara Raudlatul Iman Award 2023

Terbit: 24 Juni 2023 | 18:30 WIB

Sumenep (MaduraExpose.com)– Meski dalam kondisi kesehatan yang tidak sedang baik-baik saja, Ketua Umum Yayasan Raudlatul Iman KH. Sahli Hamid,MPd,I tetap memaksakan diri hadir dalam tiap rangkaian kegiatan yang disuguhkan oleh Panitia TIMARI 2023 dan Tasyakkur Ponpes Raudlatul Iman ke-74. Salah satunya di acara Raudlatul iman Award atau Panggung Bermartabat & Gelar Bintang Sahabat Award Madrasah Raudlatul Iman yang digelar Jum’at kemarin.

Dalam pesannya, Kiai Sahli Hamid tampak suaranya pelan menandakan kesehatannya yang kurang fit, tetap dengan sabar menyampaikan pesan-pesan moral dan keagamaan didepan sejumlah dewan guru dan santri.

Kepada para calon bintang, Kiai Sahli berpesan bahwa kehadiran orang tua dan guru wajib dimulyakan dalam perannya yang sangat besar dalam berkorban untuk anak-anak santri.

“Tidak banyak yang ingin saya sampaikan, karena Kiai Sidqi yang ditugaskan berhalangan hadir karena faktor kesehatan, maka saya yang hadir meski juga dalam kondisi tidak sehat,” demikian Kiai Sahli Hamid, Ketua Umum Yayasan Raudlatul Iman mengawali pesan-pesannya.

Sekjen Kompolan Potoh Kiai Muhammad Rowi GerAssem ini juga menyentil tentang pemilihan bintang kelas yang menurutnya tidak sembarang dilakukan.

“Penetapan para bintang ini tidak sembarang dilakukan, tapi melalui proses yang sangat ketat melalui para pengusul, untuk selanjutnya diserahkan ke Tim 5. Selamat untuk para siswa dan bintang kelas,” imbuh Kiai Sahli Hamid.

Penulis Antologi Puisi “Sepucuk Surat Wasiat” ini juga memberi pesan penting kepada para siswa dan santri Raudlatul Iman tentang pentingnya ilmu barokah atau manfaat.

“Salah satu ilmu dianggap barokah, apabila santri atau anak didik memiliki adab, takzim kepada orang tua, dalam hal ini guru,”imbuhnya menambahkan.

Kiai Sahli menilai, tugas orang tua (guru) adalah melahirkan banyak hal yang membanggakan (prestasi) dalam diri siswa atau santri.

“Karena guru tidak berharap balasan apapun dari anak-anak didiknya, melainkan menciptakan hal yang membanggakan dari anak dan murid-murdinya,” tandasnya dengan lirih namun menggetarkan sukma.

Bagi seorang guru, lanjut Kiai Sahli Hamid Dumyati, para guru tidak akan berharap balasan apapun dari murid-muridnya. Meski pengorbanan sangatlah tidak sedikit.

“Bagi kami para guru Raudlatul Iman, walau harus menderita sekalipun dalam membesarkan anak didik, tak menjadi masalah berarti, yang terpenting ada hal yang membanggakan dari anak-anaknya, murid-muridnya,” imbuhnya lagi dengan suara serak menandakan kesehatannya yang terganggu.

Kiai Sahli dengan gaya pituturnya yang halus dan melankolis kembali menandaskan, bahwa guru di Raudlatul Iman tidak akan perna merasa dikalahkan oleh anak-anak didiknya kelak menjadi orang besar.

“Guru sebagaimana orang tua, tidak akan pernah merasa tersaingi oleh anak didiknya,” pungkas Kiai Sahli sambil menutup pesan-pesannya dengan membacakan puisi yang ditulis sendiri dengan judul “Langgar Tua Di Mandala”. (Ferry Arbania)

  • Avatar

    administrator

    www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

    Related Posts

    Mimpi Buruk ‘Paman Sam’ di Tanah Persia: Mengapa Iran Sulit Ditaklukkan?

    Terbit: 8 April 2026 | 04:00 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menyeret nama Iran ke pusaran spekulasi militer global. Di tengah “jurus mabuk” kebijakan luar…

    Jari Netanyahu dan Nalar Sundar Pichai: Mengapa Algoritma Tak Bisa Dibodohi Narasi Receh?

    Terbit: 20 Maret 2026 | 10:04 WIB Oleh: Redaksi Madura Expose Strategic PENGANTAR: DRAMA JARI VS LOGIKA DATA Dunia maya sedang gempar dengan hal-hal trivial. Media-media nasional bertransformasi menjadi “detektif…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *