Media Siber dan Pengelabuhan Pasar

0
774

Oleh:Eko Pamuji (Ketua SMSI jatim)

Jatuh bangun dalam industri sesuatu yang lumrah. Sebab, pasarlah yang menentukan kedigdayaan sebuah industri, termasuk industri media massa.

Pasarlah yang bisa membuat pengelola surat kabar cekot2 dan panas dingin. Pasarlah yang membuat bisnis menjadi adem panas. Pasarlah yang menentukan profit sebuah industri, termasuk industri surat kabar yang berbasis kertas.

Persoalannya, saat ini pasar sedang kurang bersahabat dengan surat kabar. Perkembangan teknologi informasi berbasis internet telah membelalakkan mata bahwa media siber telah menyerbu media berbasis cetak. Juga media berbasis elektronik seperti radio dan televisi.

Namun, pasar ternyata tidak sepenuhnya percaya pada yang namanya media siber. laporan terakhir dari persatuan perusahaan periklanan indonesia Jatim, belanja iklan media sepanjang tahun 2016 tercatat 187 triliun.

Yang menarik, hanya 10 persen saja yang beriklan di media siber. Para pengusaha periklanan sebenarnya juga masih ragu dengan media siber berbasis internet itu.

Buktinya, hampir 90 persen belanja iklan tetap dilakukan di media mainstream atau media yang sudah memiliki kepercayaan tinggi dari khalayak. Itulah pasar iklan.

Bagaimana pasar koran? Hampir semua pengamat media sepakat bahwa ada penurunan tiras surat kabar. Sejumlah perusahaan pers berbasis cetak juga mengarakan hal yang saya.

Lalu, dilakukanlah langkah efisiensi dengan hanya mencetak koran sejumlah pelanggan. Strategi ini dilakukan hampir semua perusahan surat kabar. Risikonya, jumlah cetakan menjadi berkurang tapi tingkat efisiensi perusahaan menjadi tinggi.

Sedangkan untuk memperpanjang jangkauan pembaca, perusahaan koran membuat edisi siber. ini juga salag satu strategi memperkuat kinerja keuangan dengan pola pengelabuhan pasar. Saya katakan pengelabuhan pasar karena pasar yang seharusnya diisi koran kertas kini diisi dengan koran siber.

HotNews:  “Kau puaskan nafsuku 'gak kubunuh kau..."

Bagi saya ini tidak masalah demi tegaknya kinerja keuangan dan bangunan industri media tetap kokoh. Masih banyak lagi strategi mengelabuhi pasar media sebagai langkah adaptasi dengan pekembangan teknologi media siber.

Kelak, hana media cetak yang mau dan mampu adaptif dan melakukan inovasilah yang akan masih bertahan secara natural. Sehingga, mereka akan terhindar dari lonceng kematian surat kabar.

Lagi pula, rontoknya surat kabar adalah murni karena persoalan keuangan dan manajemen akibat gagalnya mengantisipasi pasar. (*)