Mahasiswi Fakultas Pertanian Prihatin Harga Garam Madura

0
168
Qutsiati Utami, adalah Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura, Jurusan PSDA (Pengembangan Sumber Daya Alam)

Sumenep (Maduraexpose.com)– Sebagai penghasil garam garam terbesar di Madura, Kabupaten Sumenep memiliki sentra Garam terluas, yang berlokasi di Desa Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget. Didaerah tersebut, luas area garam sekitar 30 hektar.

Yang status lahannya merupakan kepemilikan sendiri petani garam setempat. Disamping itu, petani garam di wilayah tersebut juga sudah melakukan penerapan teknologi dalam pembuatan garam, untuk menghasilkan garam dengan kualitas yang bagus.

Dan pada Selasa, 5 Oktober 2021 di Balai Desa Pinggir Papas diadakan suatu acara yaitu Forum Group Discussion (FGD) antara petani garam, penyalur hasil produksi garam, aparat desa yang dihadiri langsung oleh Kepala Desa dan perwakilan tim peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura.

Tujuan diadakannya FGD tersebut selain untuk menjalin tali silaturahmi antara tim peneliti dari Universitas Trunojoyo Madura juga sebagai untuk menemukan berbagai kendala atau permasalahan yang dialami oleh petani garam serta mendapatkan solusi yang nantinya akan dapat membantu petani dalam kegiatan usaha tani garam tersebut.

Kepala Desa Pinggir Papas H. Abdul Hayat (05/10/2021) mengutarakan terkait permasalahan yang terjadi pada petani garam, khususnya petani di Desa Pinggir Papas.

“Saat ini harga garam sangat anjlok yaitu Rp. 500 Rupiah/ kg. Penurunan harga terjadi sejak 2017 hingga saat ini dan belum menemukan titik terang terkait ketetapan harga garam tersebut” (Ungkapan dari Kepala Desa Pinggir Papas).

Permasalahan tersebut telah dialami oleh seluruh petani garam sehingga membuat penghasilan petani garam menurun.

Selain itu juga disampaikan karena tidak masuknya garam terhadap datar kebutuhan pokok, sehingga menyebabkan harga garam turun.

Upaya upaya telah dilakukan oleh petani garam yang ada di Desa Pinggir Papas yaitu salah satunya dengan melakukan audiensi terhadap pemerintah di Jawa timur.

HotNews:  Inilah Bentuk Kepedulian Babinsa Koramil 0827/15 Batu Putih

Sekitar 20 petani garam ikut serta dalam audiensi tersebut melakukan diskusi agar masyarakat mendapatkan ketetapan harga untuk petani garam.

Namun lagi lagi masyarakat hanya mendapatkan janji manis dan bahkan ke esokannya garam malah semakin turun.

Berdasarkan salah satu hasil diskusi yang disampaikan petani garam yaitu upaya mereka untuk menghasilkan garam yang berkualitas bagus sehingga tidak kalah dengan garam impor yang ada.

Hanya saja jerih payah dari petani garam terkait dengan perubahan tersebut tidak ada apresiasi atau dukungan dari pemerintah.

Padahal petani garam sudah berusaha merubah kebiasaan agar menghasilkan garam yang bagus.

Salah satu cara yang digunakan petani garam di Desa Pinggri Papas yaitu dengan menggunakan alat yang biasa dikelan dengan sebuata gemombran serta menggunakan zat adiktif NaCL, Mg, Kalsium untuk menjaga treatment air.

Pak Munawar menyebutkan bahwa petani garam melakukan uji coba agar menghasilkan kualitas garam yang baik guna meningkatkan produksi garam berkualitas dalam negeri.

Hanya saja peran dari pemerintah belum memberikan apresiasi kepada petani garam dalam menghasilkan garam, padahal untuk mengubah kebiasaan petani garam saat melakukan pembuatan garam membutuhkan waktu yang lama serta modal yang sangat banyak.

H Abdul Hayat selaku Kepala Desa Pinngir Papas berharap dengan adanya FGD bisa membantu menyuarakan keluhan rakyat terkait harga garam.

Dan juga beliau menyampaikan sangat senang apabila ada penelitian dari Universitas atau Lembaga Peneliti dengan harapan agar tau kondisi di lapangan.

Dengan harapan Pemerintah bisa melakukan kunjungan langsung ke petani garam rakyat yang ada di Desa Pinggir Papas dan bukan hanya ke petani garam yang tergolong pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN).(mem)