Kementan Apresiasi Gapoktan Bismillah Lombok Tengah

0
841
Gapoktan Bismillah Lombok Tengah/Istimewa

MADURAEXPOSE.COM–Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan peran vital sumber daya manusia (SDM) dalam mendorong program kedaulatan pangan Indonesia. Termasuk keberadaan para penyuluh swadaya seperti yang ada di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Pending Dadih Permana mengapresiasi upaya Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bismillah, Kelurahan Renteng, Kecamatan Praya, Lombok Tengah, NTB yang dipimpin Haji Saupi (55).

Dia mengaku sudah mengetahui kinerja Gapoktan Bismillah sejak masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi NTB beberapa tahun lalu. “Dia petani tulen, meski pun tidak digaji pemerintah tapi Gapoktan ini punya komitmen besar mengembangkan sistem budidaya pertanian, khususnya tanaman pangan,” ujar dia di Lombok Tengah, NTB, Kamis (23/3).

Dia menilai, Gapoktan Bismillah yang terdiri atas empat kelompok tani dengan luas areal sekitar 137 hektar patut menjadi percontohan bagi Gapoktan lain yang ada di Indonesia. Hingga kini, sejumlah Gapoktan dari Kalimantan, Jambi, hingga Bali pernah berkunjung dan belajar langsung dengan Haji Saupi.

Pun dengan para petani yang ada di NTB, juga tak segan datang untuk memetik pelajaran tentang bagaimana mengembangkan sistem budidaya pertanian. Saupi, kata Pending, memberikan pemahaman kepada para petani tentang pentingnya memperhatikan cara tanam, pola tanam, dan faktor cuaca. Selama ini, banyak para petani yang abai akan persoalan ini.

“Beliau sangat dekat dengan penyuluhan dan responsif terhadap inovasi. Beliau juga keliling ke kecamatan-kecamatan beri motivasi ke petani,” lanjut Pending.

Pending mengaku dedikasi Saupi dalam mendidik para petani lain amat luar biasa. Meski putus sekolah, Saupi mampu menjadi teladan bagi para petani di sekitarnya. Bahkan, Saupi menjamin jika mengikuti caranya, produktivitas para petani akan semakin meningkat.

“Beliau berani jamin kalau dia (petani) sekarang dapat 5 ton, dengan cara ini dapat 6 ton, kalau tidak tercapai, selisihnya diganti dia,” sambung dia.

Ia menilai Haji Saupi memegang tiga prinsip utama dalam memberikan penyuluhan yakni niat, komitmen, dan keikhlasan. “Ini juga jadi pembelajaran Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (BPPSDM) Pertanian tentang profil penyuluh swadaya, karena petani belajar di sawah bukan di bangunan-bangunan,” katanya menegaskan.

Haji Saupi mengaku awalnya tidak mudah dalam memberikan pemahaman kepada para petani. Namun begitu, hal ini tidak menyurutkan langkahnya untuk sedikit berbagi ilmu kepada sesama.

Pelan-pelan dia memberikan pemahaman tentang bagaimana pola tanam yang lebih efisien. Seperti sistem jajar legowo 2:1 yakni cara tanam dengan dua barisan dan diselingi oleh 1 barisan kosong yang setiap baris pinggir mempunyai jarak tanam setengah kali jarak tanaman antar barisan.

Dia mengungkapkan, sistem tersebut memiliki keunggulan, setidaknya di kawasan Lombok, di mana semua barisan rumpun tanaman berada di bagian pinggir menghasilkan produktivitas gabah tertinggi, memudahkan dalam mengendalikan pertumbuhan gulma dan hama Penyakit, terdapat ruang kosong yang berfungsi untuk pengaturan air, saluran pengumpul keong emas, dan lebih mengefisienkan penggunaan pupuk.

“Saya biasanya menggunakan cara ini dan berhasil. Saya berpikir kenapa tidak dikasih tahu juga kepada petani lain,” kata Saupi.

Membantu para petani merupakan kebanggan tersendiri baginya. Saat ini, para petani yang ada di sekitar kawasan Gapoktan Bismillah telah memahami dan berhasil menerapkan sistem tersebut.

Ia juga berharap, jumlah para penyuluh di Indonesia bisa terus bertambah agar program kedaulatan pangan tidak sekadar menjadi buaian semata. “Penyuluh organik kita banyak yang pensiun, saya harap jadilah penyuluh swadaya dan mandiri,” Saupi menambahkan.