Kelor Sumenep Menggenggam Devisa: Lompatan Superfood Indonesia Ke Pasar Global

Terbit: 11 Oktober 2025 | 03:44 WIB

SUMENEP – Daun kelor, tanaman yang dulu hanya dipandang sebelah mata sebagai pagar pekarangan di Madura, kini telah resmi menjadi komoditas emas hijau andalan Indonesia.

 

Kisah sukses ekspor kelor (Moringa) dari Kabupaten Sumenep bukan lagi sekadar euforia perdana pada Juni 2022, melainkan sebuah lompatan bisnis yang fantastis, mengubah desa-desa di ujung timur Madura menjadi lumbung devisa.

 

 

Dua tahun lalu, 7 Juni 2022, Sumenep mencatatkan sejarah ketika PT Sumekar Bangun Persada (SBP) melepas satu kontainer berisi 22 ton daun kelor kering menuju Cina. Total kontrak awal saat itu mencapai 200 ton. Bupati Sumenep, Ra Achmad Fauzi, kala itu sudah memberi sinyal: ekspor harus berupa produk turunan, bukan bahan mentah. Tujuannya jelas, menaikkan nilai jual demi kesejahteraan petani.

 

 

Pesan tersebut rupanya direspons dengan gemilang oleh para pelaku usaha. Mereka tidak hanya memenuhi kontrak awal, tetapi juga melakukan akselerasi hilirisasi yang luar biasa. Kelor Sumenep kini naik kelas dari sekadar daun kering menjadi bubuk (powder) berkualitas tinggi, sebuah wujud nyata dari strategi high-value commodity.

 

Devisa Melambung, Pasar Meluas Jauh Melampaui Tiongkok

 

Data terbaru menunjukkan betapa militannya para eksportir kelor Sumenep. Keberhasilan menembus Cina hanyalah pintu gerbang. Kini, Kelor Madura—dikenal sebagai ‘Superfood’ global berkat kandungan gizi dan antioksidannya—telah menguasai banyak pasar premium dunia.

 

Perusahaan lokal kini rutin mengirimkan bubuk kelor ke berbagai negara, dengan tujuan ekspor yang semakin strategis: Malaysia, Thailand, Jerman, Inggris, hingga Australia. Ini membuktikan bahwa produk pertanian Sumenep mampu memenuhi standar kualitas yang ketat di pasar Eropa dan Asia.

 

 

Lonjakan kinerja ini tercermin pada data nasional. Secara kumulatif, nilai ekspor sayuran bubuk (termasuk kelor) Indonesia pada periode Januari-September 2024 melonjak hingga 90,74 persen, mencapai nilai 13,75 juta dollar AS. Volume yang diekspor mencapai 4.350 ton, dan Sumenep menjadi salah satu kontributor utamanya.

 

UMKM Lokal Memimpin

 

Kisah PT Sumekar Bangun Persada dan para pelaku UMKM lain, seperti yang didampingi oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), menjadi penanda kebangkitan. Kelor telah mengubah lanskap ekonomi desa, mendatangkan pendapatan hingga ribuan dolar per bulan bagi pengusaha di tingkat akar rumput.

 

 

“Ini momentum kebangkitan perekonomian daerah,” ujar Kepala Dinas saat ekspor perdana. Kini, kebangkitan itu telah berlipat ganda. Para petani dan pengusaha di Sumenep membuktikan bahwa dengan menjaga kualitas, konsistensi suplai, dan fokus pada produk olahan, mereka mampu menjadi pemain kunci dalam rantai pasok internasional.

 

 

Kelor Sumenep bukan lagi hanya kisah tentang Moringa oleifera; ini adalah trade mark baru yang membanggakan, menandai era baru diversifikasi ekspor non-migas Indonesia yang dipimpin oleh kearifan lokal. Pohon yang dulunya dianggap biasa ini, kini benar-benar menjadi mesin pencetak devisa. [Ferry Arbania]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Sidak Pasar Anom: Kapolres Sumenep Pastikan Stok Minyakita Aman dan Harga Stabil

Terbit: 21 April 2026 | 23:20 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Menjaga stabilitas rantai pasok bahan pangan strategis, Kapolres Sumenep AKBP Anang Hardiyanto, S.I.K., melakukan inspeksi mendadak (sidak) ketersediaan minyak goreng…

10 Hari Menuju Sensus Ekonomi 2026: Menakar Ulang Nadi Ekonomi Sumenep

Terbit: 21 April 2026 | 22:50 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Sepuluh hari tersisa sebelum hajatan besar data nasional, Sensus Ekonomi 2026, resmi digelar. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep kini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *