Ini dia Calon Suami Nani Wijaya

0
740

MEC– Kabar mengenai Nani Wijaya yang kembali menemukan cintanya sehingga melaju ke jenjang pernikahan, tentu sangat menggembirakan. Terlebih lagi, lelaki yang memikatnya ini juga bukan orang sembarangan, sastrawan Ajip Rosidi. Tapi kemudian, siapa Ajip Rosidi? Berdasarkan penelusuran, khususnya dari catatan elektronik yang masih tertinggal di dunia maya milik sastrawan Almarhum Asep Sambodja, nama calon suami Nani Wijaya itu memiliki kekhususan.
Sponsored By:

“Ajip Rosidi adalah sastrawan yang lepas dari dua kubu Lekra dan Manikebu,” demikian catatan milik Asep Sambodja itu bercerita.

Ini terlihat, lanjut catatan itu, dari esai-esainya yang tampak jelas bahwa Ajip Rosidi memang anti kelompok kiri, tapi ia tak mau melakukan perlawanan terhadap Lekra dengan membuat “perahu” Manikebu, karena akan mudah “diserang” pihak lawan. Ia ingin menjadi sastrawan yang bebas dari blok Lekra maupun blok Manikebu.

Dalam buku Kebebasan, Negara, Pembangunan: Kumpulan Tulisan 1965-2005 karya Arief Budiman (2006), Ajip Rosidi diposisikan sebagai sastrawan independen.

Arief Budiman menyebutkan bahwa pada 1960-an, sastrawan-sastrawan Indonesia berada dalam empat kelompok, yakni pertama, sastrawan-sastrawan yang menjadi anggota Lekra seperti Pramoedya Ananta Toer, Agam Wispi, Boejoeng Saleh, F.L. Risakotta, Amarzan Ismail Hamid, Sobron Aidit, Rivai Apin, dan sebagainya.

Kedua, sastrawan-sastrawan yang menandatangani Manifes Kebudayaan seperti H.B. Jassin, Trisno Sumardjo, Goenawan Mohamad, Arief Budiman, Taufiq Ismail, dan sebagainya. Ketiga, sastrawan-sastrawan yang bernaung di bawah partai politik, seperti Sitor Situmorang (LKN-PNI), Asrul Sani dan Usmar Ismail (Lesbumi-NU), dan sebagainya. Kelompok keempat adalah sastrawan independen seperti Ajip Rosidi, Trisnojuwono, Toto Sudarto Bachtiar, Ramadhan K.H. dan sebagainya.

Dalam buku Sastera dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan, Ajip Rosidi (1995) menjelaskan bahwa Arief Budiman mendatangi Ajip Rosidi yang saat itu sedang berada di rumah Toto Sudarto Bachtiar di Jakarta. Arief Budiman meminta Ajip Rosidi dan Toto Sudarto Bachtiar untuk menandatangani pernyataan Manifes Kebudayaan, tapi keduanya menolak. Ajip Rosidi beranggapan bahwa langkah seperti itu berbahaya, karena tidak lagi merupakan langkah kebudayaan, melainkan sudah merupakan langkah politik, karena bagaimanapun pernyataan itu merupakan suatu pernyataan politik .

“Ajip Rosidi memilih menjadi sastrawan yang bebas. Kebebasan yang dimaksud Ajip adalah kalaupun seniman dan sastrawan diwajibkan masuk suatu partai politik maupun lembaga kebudayaan yang bernaung di bawah partai politik, hendaknya tetap mempertahankan independensinya,” kata catatan milik Asep Sambodja.

Lebih lanjut dikatakan bahwa meskipun bebas, bukan berarti tidak tahu politik.

“Sebagai seniman, mereka harus percaya pada kekuatan hasil ciptaannya saja. Dan percaya, bahwa kekuatan hasil ciptaan dapat mengatasi segala kotak yang dibuat berdasarkan pandangan politik,” tulis Ajip Rosidi.

Kebebasan itu juga yang membuat Ajip Rosidi memiliki teman sastrawan dari dua kubu yang berseteru itu yaitu Lekra dan Manikebu. Bahkan Orde Baru juga nyaris tidak pernah menyentuhnya meski ia tercatat pernah menulis buku bareng adik dari DN. Aidit yaitu almarhum Sobron Aidit. Serta akrab dengan sastrawan Boejoeng Saleh yang pernah mendekam di Pulau Buru.

[sumber]