Guncangan Minyak Venezuela: Josua Pardede Peringatkan Risiko “Twin Deficit” bagi Ekonomi Indonesia jika Eskalasi Trump Memuncak

Terbit: 7 Januari 2026 | 23:23 WIB

Maduraexpose.com– Langkah agresif Donald Trump yang diprediksi bakal menekan rezim Nicolas Maduro hingga pengambilalihan paksa aset minyak Venezuela memicu alarm bagi stabilitas ekonomi negara berkembang. Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menyoroti bahwa tindakan ekstrem ini dapat menjadi “pedang bermata dua” bagi pasar global, terutama bagi negara importir minyak seperti Indonesia.

Ancaman “Supply Shock” dan Volatilitas Harga

Venezuela merupakan pemilik cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Intervensi paksa terhadap infrastruktur energi mereka diyakini akan langsung memicu supply shock.

“Pasar akan langsung bereaksi terhadap ketidakpastian pasokan. Harga minyak mentah dunia berpotensi melonjak melampaui ambang batas psikologis, yang secara otomatis menaikkan biaya logistik dan manufaktur global,” ungkap Josua dalam analisis ekonominya.

Dilema Rupiah dan Tekanan Fiskal

Bagi Indonesia, dampak yang paling nyata akan terasa pada nilai tukar Rupiah dan kesehatan APBN. Berikut adalah simulasi proyeksi dampaknya:

Indikator EkonomiSkenario NormalSkenario Eskalasi Geopolitik
Harga Minyak (ICP)$75 – $80 / barel> $100 / barel
Kurs RupiahRp15.500 – Rp15.700Berisiko menembus Rp16.200++
Inflasi Domestik2.5% – 3.0%Berpotensi naik ke > 4.5%
Subsidi EnergiSesuai Pagu APBNBerisiko Membengkak (Defisit)

Josua menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia akan memperburuk kondisi Twin Deficit, yaitu kondisi di mana defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit) dan defisit anggaran pemerintah melebar secara bersamaan.

Transmisi Moneter: Risiko Suku Bunga Tinggi

Ketika harga energi melonjak, inflasi global akan mengikuti. Hal ini memaksa Bank Sentral AS (The Fed) untuk tetap agresif mempertahankan suku bunga tinggi demi meredam gejolak di dalam negeri mereka sendiri.

“Kondisi Higher for Longer di AS akan memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik kita. Akibatnya, Bank Indonesia akan memiliki ruang yang sangat terbatas untuk menurunkan suku bunga, yang pada akhirnya dapat memperlambat pertumbuhan kredit dan ekonomi nasional,” tambah Josua.

Langkah Mitigasi: Ketahanan Energi Nasional

Menurut Josua, pemerintah perlu segera memperkuat bantalan fiskal dan mempercepat diversifikasi energi untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah. Tanpa mitigasi yang tepat, volatilitas geopolitik di Amerika Latin bisa berubah menjadi krisis daya beli bagi masyarakat di pasar domestik Indonesia.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Kodim Sumenep Serahkan Truk Operasional KDKMP, Perkuat Ekonomi Desa

Terbit: 28 April 2026 | 12:19 WIB SUMENEP – Langkah strategis ditempuh Kodim 0827/Sumenep dalam memperkuat urat nadi perekonomian perdesaan. Penyerahan satu unit truk operasional kepada Kelompok Daerah Kerja Mandiri…

Dandim Sumenep Gaspol: Jembatan Ambunten & Bedah Rumah Warga

Terbit: 26 April 2026 | 11:31 WIB SUMENEP – Komitmen TNI dalam mengakselerasi pembangunan infrastruktur dan pengentasan hunian tidak layak di Sumenep kian nyata. Dandim 0827/Sumenep, Letkol Inf Citra Persada,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *