MADURAEXPOSE.COM – Duka mendalam menyelimuti kawasan Asia Tenggara menyusul gempa tektonik dahsyat berkekuatan 7,7 Magnitudo yang mengguncang jantung Myanmar pada Jumat siang, 28 Maret 2025. Hingga berita ini diturunkan, tercatat sedikitnya 23 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat guncangan dangkal yang dampaknya terasa hingga ke Thailand.
Pusat Kehancuran di Mandalay Berdasarkan data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa ini berpusat di dekat Mandalay, kota terpadat kedua di Myanmar. Kedalaman gempa yang hanya sekitar 9,6 kilometer membuat guncangan terasa sangat destruktif di permukaan.
Hanya berselang 11 menit, gempa susulan berkekuatan 6,4 M kembali menghantam, memperparah kerusakan infrastruktur yang sudah luluh lantak. Di Mandalay saja, 20 warga dilaporkan meninggal dunia.
“Kondisi rumah sakit sangat padat. Kami menangani lebih dari 200 pasien luka dengan fasilitas darurat di area parkir,” lapor Dr. Kyaw Zin dari Rumah Sakit Umum Mandalay.
Kisah Pilu dari Reruntuhan Kepedihan mendalam dirasakan Daw Kyi Shwin, seorang ibu yang harus kehilangan putri kecilnya yang berusia tiga tahun. Ia menceritakan betapa cepatnya maut menjemput saat batu bata meruntuhkan tempat tinggal mereka. Ketidaksiapan evakuasi di tengah jaringan listrik yang padam dan komunikasi yang terputus membuat proses penyelamatan di Myanmar berjalan dramatis dan penuh kendala.
Kepanikan di Bangkok: Pencakar Langit Runtuh Meski terpaut jarak lebih dari 600 mil (sekitar 965 km) dari pusat gempa, ibu kota Thailand, Bangkok, turut merasakan dampak fatal. Kepanikan pecah saat gedung-gedung bertingkat bergoyang hebat.
Insiden paling mengerikan terjadi ketika sebuah gedung pencakar langit setinggi 30 lantai yang tengah dibangun di Bangkok runtuh seketika. Tiga orang dikonfirmasi tewas dalam kejadian tersebut. Perdana Menteri Thailand, Paetongtarn Shinawatra, langsung menetapkan status “Area Darurat” untuk Bangkok dan menginstruksikan warga untuk menjauhi bangunan tinggi.
Catatan Sejarah Seismik Myanmar memang berada di zona seismik aktif. Tragedi ini membangkitkan ingatan publik pada gempa serupa tahun 2011 yang menelan 70 korban jiwa. Dengan gempa susulan yang masih berpotensi terjadi, kewaspadaan tinggi kini diberlakukan di sepanjang jalur patahan Asia Tenggara. (Red/ME)










