Madura Expose—Ketua Forum Komunikasi Pemuda Sumenep (FKPS), Ainur Rahman merasa geli dengan komentar salah satu anggota LSM yang secara vulgar mengkritisi peran wartawan yang terkesan menggurui, padahal tugas dan fungsi wartawan tidak bisa diintervensi oleh pihak manapun karena tugas dan kewenangannya dilindungi undang-undang dan kode etik.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

“Kalau ada LSM mengkritisi wartawan, ini kok lucu ya. Ini bisa-bisa ada udang dibalik batu. Wartawan itu khan menyampaikan berita, apanya yang harus dipersoalkan?!”, ujar Ainur Rahman, aktivis LSM Senior sekaligus Ketua FKPS Sumenep kepada Madura Expose, Minggu Malam, 27 April 2016.

Aktivis yang lebih karib dipanggil Inung ini menegaskan, aktivis LSM Sumenep tidak perlu alergi dengan berita kritis yang ditulis wartawan. Dan kalaupun ada persoalan bisa diselesaikan dengan hak jawab kepada media yang bersangkutan.

“Karena intinya, LSM Sumenep sangat butuh dukungan dari awak media, dan begitupun sebaliknya”, tandasnya mengingatkan.

Pria berjenggot yang belakangan menjadi juga aktif sebagai takmir masjid ini menganalogikan wartawan dengan LSM ibara saudara kandung yang sangat erat hubungannya.

“Jika LSM ada temuan bahkan ancaman, maka wartawan turut membantu pembelaan melalui beritanya. Begitu juga sebaliknya”, pungkasnya. [Ida/Fer]