PASAR MODAL BERDARAH: Dirut Bursa Efek Indonesia Nyatakan Mundur Usai IHSG Dihantam Badai ‘Panic Selling’!

Terbit: 31 Januari 2026 | 04:09 WIB

MaduraExpose.com – Panggung pasar modal nasional mendadak guncang. Iman Rachman secara mengejutkan menyatakan meletakkan jabatannya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah “angkat kaki” ini diambil Iman sebagai bentuk tanggung jawab moral setelah indeks saham Indonesia hancur lebur dihantam gelombang jual brutal pada Rabu dan Kamis pekan ini (28-29 Januari 2026).

Keputusan pahit tersebut disampaikan langsung di hadapan awak media pada Jumat pagi (30/01/2026). Iman menegaskan bahwa di tengah gejolak yang nyaris melumpuhkan pasar, akuntabilitas kepemimpinan adalah harga mati.

“Sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, saya menyatakan mengundurkan diri. Semoga ini yang terbaik demi menjaga kepercayaan dan stabilitas pasar modal kita ke depan,” ujar Iman dengan nada tegar.

Rekam Jejak ‘Panic Attack’ IHSG: Setahun Penuh Luka

Mundurnya Iman Rachman bak puncak gunung es dari rentetan momen kritis yang menghantam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Tim riset mencatat, sejak awal 2024 hingga Januari 2026, IHSG setidaknya telah mengalami 12 kali serangan panik (panic attack) yang memaksa regulator berkali-kali menarik rem darurat alias trading halt.

Berikut adalah deretan peristiwa kelam yang memaksa pasar modal Indonesia “berdarah-darah”:

  1. Tragedi 29 Januari 2026 (-8%): Goldman Sachs menurunkan rating saham Indonesia menjadi underweight. Investor panik, bursa langsung trading halt di awal sesi.

  2. Horor 28 Januari 2026 (-7%): MSCI menghentikan sementara index review. Muncul ancaman IHSG turun kasta menjadi Frontier Market dengan potensi dana asing kabur hingga Rp150 triliun.

  3. Senin Hitam 8 April 2025 (-9,15%): Efek akumulasi sentimen negatif libur Lebaran dan pecahnya perang dagang “Tarif Trump”. Ini adalah penurunan terdalam sepanjang sejarah.

  4. September Kelam (01-Sep-25): Kombinasi aksi demonstrasi besar di Jakarta dan ketidakpastian suku bunga The Fed memicu aksi jual masif.

  5. Krisis Maret 2025: IHSG disandera kejatuhan saham-saham raksasa (Big Caps) seperti AMMN, BREN, dan TPIA, ditambah krisis kepercayaan pada sektor perbankan.

Efek Domino Perang Dagang dan Fiskal

Tak hanya sentimen global, rapuhnya otot ekonomi domestik juga menjadi katalis utama. Melebarnya defisit APBN pada Oktober 2025 dan jebolnya nilai tukar Rupiah memaksa investor asing melakukan aksi net sell (jual bersih) secara brutal. Dalam kondisi “Risk-Off” tersebut, emas terbang tinggi sementara aset berisiko seperti saham dipaksa tiarap.

Meski pada perdagangan Kamis sore IHSG sempat mencoba bangkit dan ditutup di zona hijau pada level 8.232,20, namun trauma pasar nampaknya sudah terlalu dalam, hingga berujung pada mundurnya sang nakhoda bursa.

Mundurnya Iman Rachman kini menyisakan tanda tanya besar: Siapakah sosok yang mampu menjinakkan “banteng” bursa yang tengah mengamuk dan mengembalikan kepercayaan investor asing ke tanah air?

[dbs/gim/red]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Kodim Sumenep Serahkan Truk Operasional KDKMP, Perkuat Ekonomi Desa

Terbit: 28 April 2026 | 12:19 WIB SUMENEP – Langkah strategis ditempuh Kodim 0827/Sumenep dalam memperkuat urat nadi perekonomian perdesaan. Penyerahan satu unit truk operasional kepada Kelompok Daerah Kerja Mandiri…

Dandim Sumenep Gaspol: Jembatan Ambunten & Bedah Rumah Warga

Terbit: 26 April 2026 | 11:31 WIB SUMENEP – Komitmen TNI dalam mengakselerasi pembangunan infrastruktur dan pengentasan hunian tidak layak di Sumenep kian nyata. Dandim 0827/Sumenep, Letkol Inf Citra Persada,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *