Dewi Khalifah Dilaporkan Raja Hantu ke Bawaslu, Cabup Petahana Diuntungkan?

Terbit: 3 November 2024 | 18:52 WIB

Jum’at 1 November 2024, Kurniadi alias si Raja Hantu melaporkan Camat Ambunten Suryadi Irawan dan Plt Bupati Sumenep Dewi Khalifah ke Bawaslu Sumenep.

Pelaporan keduanya oleh Kurniadi awalnya menyebar secara masif di sejumlah grup WhatsApp (WA), dikonfirmasi media ini, Raja Hantu membenarkan soal rilis tersebut.

Disebutkan, Kedua pejabat tersebut pada hari Kamis, 17 Oktober 2024, bertempat di Pendopo Kantor Kecamatan Ambunten, diduga telah memanipulasi kegiatan kedinasan yang dananya bersumber dari keuangan negara, meliputi makan-minum, menggunakan fasilitas negara berupa tempat/ruangan Kantor Kecamatan serta fasilitas yang ada di dalamnya, termasuk mic dan _sound system_;

Kegiatan tersebut sejatinya adalah untuk mengadakan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, akan tetapi kemudian disulap menjadi alat kampanye yaitu untuk mempengaruhi pemilih yang hadir dalam kegiatan tersebut untuk bersimpati kepada Paslon Petahana No. Urut-02 Fauzi-Imam (Faham);

Notes: Dikatakan kampanye, karena dalam ceramah yang disampaikan oleh Dewi Khalifah tersebut tidak lagi berisi puji-pujian mengenai kebesaran dan kemuliaan Baginda Nabi Besar Muhammad SAW, melainkan dengan terang-terangan di muka banyak orang Dewi Khalifah memuji-muji Paslon Petanaha, dan kemudian diikuti dengan penyampaian harapannya agar Paslon Petahana tersebut dapat terpilih kembali.

Demikian potongan rilis Kurniadi, yang sebelumnya telah dikirim utuh ke pihak Dewi Khalifah dengan harapan ada keterangan yang bisa disampaikan ke publik, agar tidak terjadi kesalahpahaman, atau setidaknya masyarakat bisa mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di tempat acara.

Dalam hal ini, saya mencoba sedikit mengingatkan tentang sosok Dewi Khalifah atau biasa dipanggil Nyai Eva itu, merupakan Wakil Bupati Sumenep mendampingi Achmad Fauzi Wongsojudo di priode pertama.

Sebelum dikenal sebagai politikus, Nyai Eva merupakan tokoh pesantren yang malang melintang di dunia dakwah dan aktif sebagai aktivis Muslimat NU. Dari sisi religiusitas, kealimannya dalam bidang agama dan kitab-kitab pesantren tak perlu diragukan. Apalagi urusan shalawat, dari dulu hingga menjadi Wakil Bupati, kesehariannya selalu tak lepas dari bacaan shalawat dengan jumlah ribuan bahkan ratusan ribu dalam sehari semalam.

Begitu juga dengan urusan politik, Nyai Eva sudah lama piawai dalam berpolitik, bahkan sejak dirinya menjadi Anggot DRPD Sumenep beberapa puluh tahun silam. Artinya, dia sudah dangat faham, mana ucapan yang bisa dianggap melanggar dan mana tindakan yang akan berbauh “pinalti” dari bawaslu.

Ada cuplikan “Notes” dari Raja Hantu yang sebenarnya sangat menguntungkan bagi kubu FAHAM, “….di muka banyak orang Dewi Khalifah memuji-muji Paslon Petanaha, dan kemudian diikuti dengan penyampaian harapannya agar Paslon Petahana tersebut dapat terpilih kembali.”

Kenapa saya bilang menguntungkan bagi Faham? Karena dengan sadar atau tidak, maka publik mulai mencerna bahwa Dewi Khalifah tidak menaruh dendam terhadap Achmad Fauzi Wongsojudo kendati Nyai Eva tak dicalonkan lagi pada priode kedua. Ini sangat luar biasa. Lazim terjadi pada pristiwa politik yang sama, apabila seorang Wakil Bupati tidak dicalonkan lagi pada priode kedua biasanya “auto” menjadi lawan politik Cabup petahana.

Maka dengan adanya peristiwa politik yang dilaporkan Raja Hantu ke Bawaslu ini, pendukung setia Nyai Eva menjadi terkonfirmasi dengan sendirinya. Setidaknya, banyak yang mulai menaruh simpati kepada Nyai Eva.

Kendati demikian, saya juga mengenal baik karakter Kurniadi alias si Raja Hantu, baik sebagai pribadi Aktivis pro demokrasi dan penegakan hukum pada YLBH-Madura. Ibarat hantu, pikiran-pikiran kritisnya selalu menghantui banyak kalangan dan dia lakukan secara profesional dan konstitusional. Apapun pro dan kontranya, mari kita tunggu hasil kinerja Bawaslu Kabupaten Sumenep. #peace

MADURA EXPOSE

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

HPN 2026: Pers Madura Bukan Sekadar “Tukang Foto”, Tapi Penjaga Waras di Era Digital

Terbit: 11 Februari 2026 | 13:55 WIB EDITORIAL – Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2026 ini bukan sekadar seremoni potong tumpeng atau bagi-bagi plakat. Bagi kami di Madura Expose, momen…

TAJUK: Menanti Nyali Kejari Sumenep—Ojo’ Mateh Angen, Segera Seret Dalang Korupsi KPU!

Terbit: 10 Februari 2026 | 11:37 WIB MADURA EXPOSE, SUMENEP – Rakyat Sumenep bukan kumpulan orang bodoh yang bisa terus-menerus disuapi janji dan alasan teknis. Di atas tanah ini, kejujuran…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *