METRO ACEH — Situasi darurat pangan dan energi di Kabupaten Aceh Tengah semakin kritis pasca-bencana. Ratusan warga yang terdampak banjir dan tanah longsor mendatangi Kantor Bupati pada Selasa (2/12/2025), menuntut percepatan distribusi bantuan, terutama beras dan Bahan Bakar Minyak (BBM), yang disebut-sebut telah hilang dari pasaran selama hampir seminggu.
Dalam aksi yang berlangsung tertib namun penuh tuntutan tersebut, warga menyampaikan kekecewaan atas lambatnya penanganan. Data terakhir mencatat Aceh Tengah masih terisolasi, mengalami krisis pangan, air bersih, serta terputusnya listrik dan jaringan komunikasi. Bahkan, Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah, Andalila, mengonfirmasi bahwa hingga kini dilaporkan 22 orang meninggal dunia dan 23 orang masih hilang akibat bencana hidrometeorologi ini.
⛽ Kebijakan Prioritas BBM Pemkab Aceh Tengah
Menanggapi desakan publik dan situasi kritis, Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, bergerak cepat menetapkan kebijakan prioritas untuk menjamin ketersediaan energi dan kebutuhan dasar.
Bupati Haili Yoga mengakui tantangan berat yang dihadapi, di mana akses jalan terputus menghambat pasokan logistik, dan mengklaim pemerintah daerah terus berupaya keras.
“Pemerintah terus bekerja keras memastikan distribusi BBM dilakukan tepat sasaran pada sektor-sektor vital,” tegas Bupati Haili Yoga usai berdialog dengan warga.
Penyaluran BBM diprioritaskan ketat untuk:
-
Alat Berat: Untuk membuka akses jalan vital yang terputus.
-
Layanan Darurat: Ambulans, genset posko evakuasi, dan fasilitas layanan kesehatan.
-
Tim Penyelamat: Mobilitas tim evakuasi dan penyelamatan.
-
Kebutuhan Mendesak Warga: Penjualan terbatas di SPBU bagi kebutuhan mendesak masyarakat.
Pemkab Aceh Tengah juga terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi dan Pusat untuk percepatan tambahan pasokan. Data BPBD mencatat bantuan beras baru masuk sebanyak 6,5 ton (setelah dibagi dengan Bener Meriah) pada Senin (1/12/2025), jumlah yang masih sangat minim untuk memenuhi kebutuhan ribuan warga terdampak.
💡 Pemerintah Aceh: Stok BBM Aman, Masalah Utama di Listrik
Sementara di wilayah ibu kota, Pemerintah Provinsi Aceh melalui Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh memberikan klarifikasi terkait antrean panjang BBM yang terjadi di beberapa SPBU Banda Aceh dalam dua hari terakhir.
Juru Bicara Pos Komando, Murthalamuddin, menegaskan bahwa antrean panjang bukan disebabkan oleh kelangkaan stok pasokan BBM, melainkan:
-
Ketidakstabilan Suplai Listrik PLN: Pemadaman bergilir menghambat proses pengisian dan pelayanan di SPBU.
-
Keterbatasan Genset: SPBU yang mengandalkan genset tidak memungkinkan beroperasi 24 jam penuh, sehingga layanan terhambat dan memicu panic buying.
“Secara stok tidak ada masalah dengan BBM di Banda Aceh. Panic buying tidak diperlukan karena stok dijamin aman,” jelas Murthalamuddin dalam konferensi pers yang digelar di Media Center Posko Tanggap Darurat Bencana.
Senada dengan itu, Ketua Hiswana Migas Aceh, Nahrawi Noerdin, memastikan suplai energi di Aceh aman. Ia meminta PLN untuk mempercepat stabilisasi listrik dan memprioritaskan suplai ke SPBU agar pelayanan dapat kembali optimal 24 jam.
Untuk mempermudah dan mempercepat akses energi di tengah situasi darurat, dilaporkan juga bahwa BPH Migas atas permintaan Gubernur Aceh telah mencabut sementara aturan pembelian BBM menggunakan barcode di wilayah yang ditetapkan sebagai daerah tanggap darurat, berlaku mulai 28 November hingga 11 Desember 2025.
Ilustrasi foto: Dok. Infopublik.id


















