Maduraexpose.com- Dengan berjalannya waktu, tarling klasik kini telah dilupakan masyarakat. Mereka bahkan sering menyamakan dengan musik dangdut pantura Cirebon-Dermayu, sehingga terjadi ketidakjelasan dalam pemilihan antara dangdut pantura dengan tarling klasik.

Dangdut panturaan itu musik dangdut, hanya bercorak pantura dengan nada sederhana dan berbahasa Cerbon-Dermayu. Memang kekhasan tembang ini karena terpengaruh oleh tradisi notasi tarling.

”Ini sesuatu yang tak bisa terhindarkan. Tarling hanya menjadi akar saja dari tembang dangdut panturaan,” tutur Supali Kasim, pemerhati budaya asal Indramayu yang tahun 2000an menyusun lagu “Tarling, Migrasi Bunyi dari Gamelan ke Gitar-Suling”.

Pada masa itu, satu lagu yang diciptakan bukan sistem royalti, tetapi dengan cara jual putus. Dikarenakan lagu-lagu yang direkam sifatnya lokal, sehingga daya jualnya kurang. Bila saat itu lagu tarling bisa dikenal dan diterima di seluruh Indonesia seperti musik pop, mungkin dijual melalui sistem royalti.

“Untuk satu lagu yang diciptakan dijual paling murah dengan harga Rp 500.000 untuk satu buah lagu,” tutur maestro tarling klasik, Sumarto Martaatmadja atau Kang Ato.

Dangdut Cerbonan kekinian makin ngetrend di blantika musik nasional. Masyarakat yang makin pragmatis, selera musiknya pun ikut pragmatis. Dangdut pantura atau tarling dangdut lahir dari sikap pragmatisme yang menggiring pencipta tunduk pada selera pasar.

”Tembang ini lahir dari sikap pragmatis masyarakat dan selera pasar,” tutur Supali.
Dari perjalanan tarling klasik, lagu-lagu tarling mengadopsi dari pencipta yang tak diketahui namanya (nonim) seperti “Wulan Purnama”, “Sumpah Suci”, “Gadis Indramayu” dan banyak lagi.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Tahun 1970 an Jayana dengan kiser klasik berduet dengan Hj. Dadang Darniah, lahir lagu-lagu seperti “Cibulan”, “Manuk Dara sepasang”. H. Abdul Ajib sukses dengan hits “Warung Pojok”, “Sega Jamblang” dan “Tukang Cukur”. Sedang Kang Ato, salah satunya popular dengan “Melati Segagang”.

Dominasi pasar mulai 1990-an. Generasi Yoyo Suwaryo yang semula lagunya bertema keindahan dan ungkapan syukur seperti “Kirim Donga” dan “Belajar Ngaji” lalu berkembang ke ungkapan dinamika rumah tangga seperti “Bapuk”, “Telaga Remis”,”Tetep Demen”, “Wis Langka Harapan”.

Ipang Supendi dengan “Tek Tunggu Rangdane, “Pengen Sing Gede”. Tahun 2000 mengalami booming dengan hits “Mabok Bae” Aas Rolani, lalu “Kucing Garong”, “Pesisir Balongan”, “Diusir Mertua”, Mujaer Mundur”, dan lain-lain.

Ada perkembangan di tingkat kaidah tarling antara 1960-1970 hingga 1980, 1990, 2000an. Berbarengan perkembangan sosial, soal suka duka keluarga TKW atau wanita yang mengadu nasib di Mangga Besar Jakarta, beserta pernak-perniknya, menjadi teks yang banyak mengisi lirik tembang pantura.

Lagu demi lagu dirilis. Tiap saat muncul hits. Perkembangan teknologi lebih menyemarakan seperti kemudahan produksi rekaman, CD, MP3 atau DVD, termasuk internet yang membuat tembang pantura bisa dipopulerkan lewat youtube, facebook dan sejenisnya.

“Stasiun radio lokal, sejak tahun 60an sangat berperan mempopulerkan tembang pantura, penyanyi, pencipta dan grup-grup tarling dangdut. Kini turut berperan stasiun televisi lokal yang sejak 2010 mulai bermunculan,” tutur Supali.

(Aen/GMN)