M.EXPOSE—Pernyataan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB) soal jadwal Munas sebelum bulan Ramadhan tahun 2016 ini, bagi Bambang Soesatyo (BS), bukanlah sebuah signal lagi, tapi adalah sebuah perintah.

“Jadi, tidak perlu lagi ada pernyataan mundur. Sesuai dengan mekanisme yang ada dalam AD/ART partai, ARB dipilih dan ditetapkan sebagai ketum dalam sebuah Munas. Demikian juga jika beliau ingin mengakhirinya harus lewat Munas atau Munaslub,” kata Bendahara Umum Golkar hasil Munas Bali ini, Minggu (24/1).

Jelas Bambang, peserta Rapimnas tadi malam terkejut dengan keputusan ARB. Karena sesungguhnya mereka sangat meyakini bahwa mereka adalah pihak yang benar dan menang secara hukum. “Tetapi apa boleh buat. Pahit memang. Dan kita semua memendam luka yang sangat dalam,” ungkapnya.

Lanjut Bambang, tapi itulah realitas politik. Baru kali inilah dalam sejarah panjang Golkar harus tunduk dan bertekuk lutut pada kekejaman kekuasaan yang tidak menghendaki ARB sebagai ketua umum dengan memakai senjata SK pengesahan yang terus digantung.

Menurutnya, untunglah ARB berjiwa besar dan negarawan. Dia tidak menyalahkan gelapnya malam, tapi menyalakan lilin agar menerangi malam. Dengan perintah pelaksanaan Munas sebelum Ramadhan atau sebelum memasuki tahapan pendaftaran Pilkada serentak putaran kedua tahun 2017, yang jatuh pada Juli 2016, agar Golkar bisa menyiapkan diri dengan baik dalam derap langkah yang satu tanpa dualisme kepengurusan seperti Pilkada serentak sebelumnya.

“Kita berharap jalan yang sudah dibuka lebar oleh ARB disambut baik oleh kawan-kawan Ancol yang sudah tidak jelas itu karena SK-nya sudah dicabut atau dibatalkan pemerintah untuk masuk dalam gelanggang pertarungan yang demokratis dan tidak lagi berteriak-teriak di pinggir jalan,” tetas Bambang.

Ia menghimbau, mari sama-sama tentukan jadwal, waktu dan tempat Munas diselenggarkan. Mari bentuk kepanitiaan bersama dengan supervisi BJ Habibie, JK dan Akbar Tanjung. Siapa-siapa yang duduk di SC dan siapa-siapa yang duduk sebagai OC.

“Pak AL kirim nama dan Pak ARB kirim nama. Gadang-gadang lah siapa calon ketua umum dari pihak AL dan siapa saja caketum dari pihak ARB. Kita buka kesempatan juga bagi siapa saja diluar kelompok atau kubu tadi untuk ikut juga masuk dalam permainan. Simple!” terang Bambang.

Tapi, lanjut Bambang, itu tadi, kalau nanti kalah jalan lagi teriak-teriak dicurangi atau bilang tidak demokratis. Harus kesatria dan tidak boleh jadi pecundang. Demikian juga dengan pemerintah, jika nanti ketua umum Golkar yang terpilih ternyata bukanlah figur yang diharapkan, jangan lagi mencari-cari alasan tidak mengesahkan dan menciptakan Munas abal-abal untuk memecah belah kembali Partai Golkar.

“Dengan kebesaran hati semua pihak, kita harus menyakini bahwa Golkar akan menjadi kekuatan baru yang bakal diandalkan oleh bangsa dan negara ini dalam mewujudkan cita-cita dan harapan rakyat,” demikian Bambang.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

[RMOL]