Jakarta: Antara Trump dan ‘Dosa’ Sejarah

Terbit: 6 Maret 2026 | 09:25 WIB

MADURA EXPOSE, JAKARTA – Suasana diplomatik di ibu kota mendadak “gerah” menyusul serangan verbal tajam dari tokoh nasional Muhammad Said Didu. Di tengah duka dunia atas terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Seyed Ali Khamenei, Didu menyoroti pergeseran drastis haluan politik luar negeri Indonesia yang dianggap lebih condong memihak blok Donald Trump dan Israel—sebuah pilihan yang ia sebut sebagai “kegelapan” di tengah tatanan dunia baru.

“Indonesia sepertinya lebih memilih bergabung bersama AS dan Israel. Suatu pembalikan arah perjuangan yang sangat drastis,” tegas Didu usai menghadiri acara petisi di kediaman Dubes Iran. Kritik ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan sebuah “tamparan” terhadap kompetensi para pembantu Presiden yang dianggap telah kehilangan arah kompas konstitusi UUD 1945.

Analisis Teori Administrasi Negara dan Krisis Identitas Nasional

Dalam diskursus Administrasi Publik dan Kebijakan Luar Negeri, fenomena yang dikritik Said Didu masuk dalam kategori Policy Drift (pergeseran kebijakan). Indonesia yang secara historis memegang prinsip “Bebas Aktif”, kini dituding terjebak dalam pragmatisme transaksional akibat tekanan atau daya tarik administrasi Trump.

Secara administratif, keterlambatan pemerintah dalam memberikan ucapan duka cita mencerminkan “Birokrasi Ketakutan”. Pemimpin dan pembantunya terjebak dalam dilema antara menjaga hubungan ekonomi dengan Washington atau mempertahankan marwah kemanusiaan internasional. Said Didu memberikan diagnosis keras: Indonesia sedang mengalami kombinasi antara kebodohan strategis dan hilangnya prinsip kedaulatan.

GMKR dan Lilin Perlawanan di Kediaman Dubes

Melalui komunitas GMKR (Gerakan Merebut Kembali Kedaulatan Rakyat), Didu mencoba menyalakan “lilin kecil” untuk menyelamatkan wajah Indonesia di mata Iran dan sekutunya. Di saat negara-negara NATO mulai menjaga jarak dengan Israel terkait isu Palestina, Indonesia justru terlihat “mengekor” di belakang Trump. Pesan Didu jelas: Jangan korbankan peradaban dan kemanusiaan demi kompromi politik sesaat.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Presiden Prabowo Tinjau Gudang Bulog Magelang: Stok 7.000 Ton Aman, Kualitas Jadi Harga Mati

Terbit: 20 April 2026 | 13:30 WIB MAGELANG, MaduraExpose.com – Presiden Prabowo Subianto melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Kompleks Gudang Bulog Danurejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (18/04/2026). Langkah strategis…

Ultimatum Manis Menkeu

Terbit: 15 April 2026 | 20:00 WIB JAKARTA – Kebijakan fiskal terkait industri hasil tembakau kembali memasuki babak krusial. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, meluncurkan ultimatum strategis terhadap peredaran rokok…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *