Sistem Pelayanan Kesehatan Diharapkan Waspadai Peningkatan Kasus DBD

Terbit: 4 Februari 2024 | 06:02 WIB

Maduraexpose.com– Waspadai peningkatan kasus demam berdarah dangue (DBD) di tanah air, maka perlu upaya pemberantasan sarang nyamuk dan kesiapan layanan kesehatan di daerah-daerah yang konsisten.

Demikian dikatakan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (3/2/2024).

“Di sejumlah daerah di tanah air saat ini mulai bermunculan kembali kasus DBD baik di Jawa maupun di sejumlah luarJawa. Sistem pelayanan kesehatan dan masyarakat harus benar-benar siap mengantisipasi merebaknya kasus DBD di tanah air,” katanya.

Beragam cara telah dilakukan pemerintah untuk menekan kasus DBD meski angka kasus masih di atas 10 per 100 ribu populasi yang merupakan batas standar World Health Organization (WHO).

Saat ini, incident rate kasus DBD di Indonesia masih berada di 28 per 100 ribu penduduk. Pada 2022 dilaporkan 143.300 kasus dengan 1.236 kematian. Kelompok umur dengan kematian tertinggi pada rentang usia 5-14 tahun.

Menurut Lestari, catatan tersebut harus menjadi dasar peningkatan respon para pemangku kepentingan terhadap merebaknya kasus DBD di awal tahun ini.

Apalagi, tambah Rerie, sapaan akrab Lestari, kelompok umur yang rentan terhadap DBD adalah kelompok usia belia, calon generasi penerus bangsa.

Langkah strategis yang menyeluruh, jelas Rerie, harus segera dilakukan dalam upaya mencegah kematian, sekaligus penyebaran DBD di tanah air.

Ia pun mendorong agar kolaborasi yang kuat terbangun antarpemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah dalam upaya meningkatkan kesiapan layanan kesehatan di sejumlah daerah untuk mengantisipasi potensi ledakan kasus DBD di tanah air.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Kepungan Tiga Bibit Siklon: Madura Siaga Satu Ancaman ISPA hingga DBD

Terbit: 9 Maret 2026 | 06:00 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Langit Jawa Timur, khususnya wilayah Madura, kini berada dalam pengawasan ketat radar BMKG. Kemunculan tiga bibit siklon tropis—90S, 93S, dan…

Siklon 90S Mengintai Madura! Bukan Sekadar Angin Kencang, Ada Ancaman “Vektor” yang Mengincar Nyawa

“Korelasi antara anomali meteorologi berupa siklon tropis dan pergeseran ekologi vektor penyakit menegaskan urgensi kebijakan kesehatan yang adaptif. Secara administratif, sinergi lintas institusi antara BMKG, BRIN, dan otoritas kesehatan daerah merupakan manifestasi dari sistem peringatan dini (Early Warning System) yang komprehensif. Upaya mitigasi tidak lagi dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus menyentuh akar permasalahan lingkungan guna menjamin ketahanan nasional di sektor kesehatan publik.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *