Pak Harto Tentang Serangan Umum 1 Maret 1949 (Bagian II)

Terbit: 1 Maret 2020 | 17:40 WIB

Oleh: Herry M Joesoef

Sejarah akan lebih shahih jika dituturkan oleh pelakunya. Inilah penuturan Pak Harto tentang peristiwa Seragan Umum 1 Maret 1949 yang fenomenal itu. Penuturan ini dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982. Diturunkan dalam 3 bagian –Redaksi.

Sesampai di daerah selatan, Batalyon Soedjono sudah datang dari Purworejo yaitu batalyon yang saya perintahkan untuk datang melalui Widodo. Dengan demikian, maka semua persiapan sudah beres. Cuma di kota belum terbentuk pasukan karena waktu itu saya belum masuk kota. Tetapi kemudian saya tetapkan kota Jogya berda di bawah pimpinan Letnan Marsudi, dan wakilnya Letnan Amir Murtono.

Segera saya membuat rencana serangan umum pertama. Maksud saya bukan untuk menduduki, melainkan untuk menunjukkan kepada rakyat, dan kepada Belanda bahwa TNI masih ada.

Maka serangan kami lakukan pada tanggal 30 Desember malam hari. Serangan inilah yang kelak oleh sementara pihak disebut seolah-olah gagal. Yang menilai begitu, ia tidak tahu, apa maksud serangan umum pertama itu.

Pada waktu kami kembali dari menyerang, kami dihadang oleh pasukan Belanda karena justru pada tanggal 30 Desember itu tentara Belanda bergerak dari kota Jogya ke sebelah barat, ke desa Pedes, dan terus ke selatan, menuju Bantul. Tanggal 31 pagi pasukan Belanda itu bergerak dari Bantul utara. Saya hampir saja terjepit. Tetapi Alhamdulillah, saya bisa lolos dari kepungan.

Lalu terus saya perintahkan lagi kepada sektor-sektor agar terus menerus melakukan serangan di daerahnya masing-masing. Serangan gerilya dan pencegatan pun harus dilakukan sambil mempersiapkan diri untuk melakukan serangan secara besar-besaran ke kota atas perintah.

Setiap serangan dalam perang gerilya saya anggap tidak ada gagalnya. Serangan itu tidak dimaksudkan untuk menduduki dan kemudian mempertahankan daerah yang diserang, melainkan untuk memperlemah kekuatan musuh.

Kemudian kami lakukan serangan berikutnya, sepuluh hari setelah serangan pertama. Lalu kami laksanakan serangan yang ketiga pada pertengahan Januari dan serangan keempat kalinya di permulaan Februari. Pada serangan umum ketiga itulah saya membentuk Komando Sektor Kota dengan Letnan Marsudi sebagai komandannya. Semua itu merupakan rangkaian usaha dalam melaksanakan perang gerilya. Tetapi semua itu kami lakukan di malam hari.

Apa yang terjadi kemudian?

Persis pada waktu saya menyetel radio memantau siaran luar negeri bersama-sama dengan Purhadi, perwira PHB yang sekarang sudah tiada, terdengar siaran luar negeri mengenai perdebatan di PBB. Belanda mengatakan bahwa tindakan polisionilnya, begitulah sebutan mereka, telah berhasil. Jogya telah mereka duduki, pemerintahan Belanda berjalan lancar, TNI sudah tidak ada, ekstrimis sudah di luar kota, katanya. Hati saya melawan mendengar siaran itu. Sudah empat kali kita melakukan serangan, masih juga mereka lantang mengatakan begitu.

Seketika itu saya berfikir, “Bahan apa yang akan digunakan Palar, Wakil RI di PBB untuk menjawab pernyataan pihak Belanda itu?”. Maka muncul keputusan dalam pikiran saya: kita harus melakukan serangan siang hari, supaya bisa menunjukkan pada dunia kebohongan si Belanda itu.

Waktu itu tidak ada komunikasi antar pimpinan TNI. Pak Dirman sudah berada di dekat Jawa Timur. Mungkin sudah di Pacitan. Mungkin sudah di desa Sobo. Komando Panglima Divisi ada di Ngangkrik, Magelang. Kita memerlukan waktu berhari-hari untuk bisa sampai ke sana.

Sistem Wehrkreise, yang sudah kita putuskan untuk dipakai, menetapkan memberikan wewenang kepada Komandan Wehrkreise untuk mengambil inisiatif yang sesuai keadaan dan kemampuan masing-masing.

Lalu saya putuskan, di pertengahan Februari mengadakan serangan pendahuluan terhadap pos-pos Belanda di luar kota, untuk mengelabui perhatian tentara Belanda, seolah-olah kita tidak akan menyerang kota. Dengan begitu, kita buat mereka lengah.

Setelah itu, saya perintahkan setiap pasukan mempersiapkan diri untuk melaksanakan serangan umum. Waktu saya tentukan: pada tanggal 1 Maret, serangan pagi. Pasukan kita saya tetapkan menggunakan janur kuning sebagai tanda pengenal. Saya tekankan, serangan kita itu bukan untuk menduduki dan terus mempertahankan kota itu. Mempertahankan itu bertentangan dengan taktik gerilya. Mengambil sikap mempertahankan itu bisa dihancurkan lawan yang punya senjata lebih ampuh. Sebab itu, kita menyerang untuk tujuan politis, agar supaya dunia mengetahui bahwa TNI masih mampu mengadakan perlawanan. Sementara itu saya anggap penting adanya unsur pendadakan, karena hal itu merupakan salah satu unsur yang bisa membuahkan kemenangan. Alhasil, serangan itu kami lakukan dengan perencanaan dan persiapan yang matang.

Saya pimpin serangan itu dari sebelah barat masuk lewat Kuncen terus ke Pathuk.
Saya rahasiakan rencana ini. Tidak boleh bocor. (Bersambung)

(ins)

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

JCH Pamekasan Kantongi Visa, Siap Terbang ke Tanah Suci Mei Mendatang

Terbit: 21 April 2026 | 23:56 WIB Pamekasan (MaduraExpose.com) – Kabar menggembirakan bagi ribuan Jemaah Calon Haji (JCH) asal Kabupaten Pamekasan. Sebanyak 1.384 jemaah dipastikan telah melengkapi seluruh persyaratan administratif,…

Arjuna di Cikeas dan Restu dari Majapahit

Terbit: 31 Maret 2026 | 01:00 WIB JAKARTA — Sebuah penantian panjang di kediaman Cikeas akhirnya bermuara pada syukur yang mendalam. Minggu malam (29/3/2026), tepat pukul 19.28 WIB, keluarga besar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *