Sumenep (MaduraExpose.com)–Telah terjadi pemukulan oleh oknum Guru keapada Muridnya di SMA 1 Sumenep,dugaan pemukulan tertsebut bermula Hari Senin (21/01/19) lalu.

Disaat upacara berlangsung oknum guru menemukan 7 muridnya tidak ikut Upacara sedang berada di dalam kelas, secara spontanitas oknum guru tersebut langsung menampeleng ke 6 laki-laki dan 1 perempuan muridnya
Sebagaimana keluh dari salah satu dari wali murid (enggan memberikan nama dirinya serta nama anaknya) yang menjadi korban pemukulan oknum Guru tersebut.

“Itu penempelengannya secara spontan mas, tanpa bertanya alasannya kenapa tidak ikut Upacara”,terang salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya.

Menurutnya,ada sekitar tujuh siswa yang menjadi korban arogansi oknum guru tersebu. Namun pihak sekolah mengelak terjadinya kekerasan dari oknum pendidik di SMANSA tersebut.

” Bukan di pukul, melainkan hanya di tepuk oleh guru X (tidak mebyebutkan nama Gurunya)”, demikian Syamsul Arifin,Kepala SMANSA Sumenep saat dikonfirmasi MaduraExpose.com diruang kerjanya,Rabu 23 Januari 2019.

Arifin mengkonfirmasi telah dilakukan mediasi antara Guru X dan ke 7 Muridnya yang melibatkan salah satu orang wali murid.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

“Yang pokok isi dari mediasi tersebut bahwa sama sama meminta maaf antara Guru X jika telah mendidik kelewatan batas dan Murid sudah mengakui kesalahannya,” imbuh Arifin.

Meski telah dilakukan mediasi, persolan ini diengarai akan terus berlanjut dan berbuntut panjang.Pasalnya,pihak sekolah diduga tidak melindungi oknum guru yang diduga melakukan kekerasan terhada sejumlah siswanya. Hal itu dikuatkan dengan pengakuan wali murid korban yang memabantah keras pernyataan Syamsul Arifin,Kasek SMANSA.

“(Bohong itu)kalau korban hanya di tepuk mas. Malah teman anak saya ada yang memar.Dan anak saya mengalami perubahan mental sepertu shock gitu”,beber salah satu wali murid yang enggan beberkan namanya.

Pihaknya malah mengaku keberatan atau tidak puas adanya mediasi yang dilakukan di sekolah. Pasalnya, pada hari kejadian,pihaknya tidak di beritahu oleh pihak sekolah secara resmi maupun pemanggilan pada saat mediasi berlangsung.

“Biasanya murid tidak masuk sekolah 3 kali saja, wali murid di beritahu oleh pihak sekolah. Masak terjadi insiden kekerasan semacam itu pihak kami tidak di beri tahu,” sesalnya dengan raut wajah penuh kecewa. (saf/fer)