Ketua GPP Minta Dispertahortbun Sumenep Tidak “Meneror” Petani Tembakau

0
137

MADURAEXPOSE.COM, SUMENEP–Ketua Gerakan Pemuda Pantura (GPP) Adi Siswadi menyayangkan himbauan Dinas Pertanian Holtikultura Tanaman Pangan dan Perkebunan (Dispertahortbun) Kabupaten Sumenep yang dinilai datang terlambat disaat sebagian besar petani sudah hampir memasuki panen.

Menurut Adi,sapaan akrabnya, pihaknya juga mengaku kaget dengan himbauan yang baru diketahuinya hari ini melalui media online. Selain itu, himbauan Dinas terkait agar tidak terlalu banyak menanam tembakau musim kemarau tahun ini dengan dalihharga tembakau yang diprediksi kurang optimal akan menjadi semacam teror bagi petani tembakau.

“Sikap saya terkait statemen dinas (Dispertahortbun,Red) tak sepatutnya meneror petani. Seharusnya pemerintah mencarikan solusi nasib petani,” demikian Adi Siswadi, Ketua GPP dalam keterangannya yang diterima Redaksi, Kamis 30 Juli 2020 malam.

Disinggung solusi seperti apa yang bisa dilakukan pihak Dispertahortbun dalam membantu penjualan hasil tembakau petani, mantan aktivisi PMII ini pun memberikan gambarannya.
“Entah mencarikan solusi lewat BUMD nya atau langkah-langkah strategis untuk menyelamatkan harga tembakau. Pemerintah bisa melakukan kemitraan dengan gudang atau perusahaan melalui BUMD supaya harga terselamatkan,” imbuhnya.

Adi juga mengelompokkan petani tembakau fanatik karena kualitasnya memang go international lahanya ada didaerah pantura.

“Khsus di daerah panturan seperti Pasongsongan, Ambunten dan Rubaru adalah tembakau menjadi satu-satunya sektor pertanian yang bisa menghasilkan uang besar. Kalau memang pemerintah mengetahui tidak stabilnya harga tembakau, mestinya ngasih solusi. (Kalau tidak) Pokoknya tak beres”, tandasnya.

Selain itu Adi juga mempertanyakan dinas terkait yang seolah-olah sangat santai hanya dengan mengeluarkan himbauan tanpa disertai solusi yang sebanding dengan tembakau.
“Kalau tidak menanam tambakau, petani disuruh tanam apa? Ngasi solusi dong, bukan “neror-neror gitu,” pungkasnya.

Diberitakan media daring sebelumnya, Kepala bidang perkebunan Dispertahorbun Sumenep Rina Suryandari mengungkapkan, pihaknya telah menerima surat dari salah satu perusahaan rokok, yakni PT. Bentoel Prima.

“Isi surat tertulis bahwa perusahaan tersebut tidak akan melakukan pembelian tembakau pada musim kemarau tahun ini,” ungkapnya.

Berdasarkan surat tersebut, Dispertahorbun Sumenep mengimbau pada petani untuk tidak terlalu banyak menanam tembakau, sebab, dengan absennya salah satu pabrik rokok untuk membeli hasil panen tembakau dari petani akan mempengaruhi harga.

“Apalagi saat ini masih dalam keadaan pandemi Covid-19.” katanya, Kamis (30/7/20).
Menurut Rina Suryandari, absennya perusahaan rokok tersebut disebabkan stok tembakau yang ada di Pabrik PT. Bentoel Prima masih relatif banyak.

Selain itu, lanjut dia, adanya kebijakan pemerintah tentang kenaikan tarif cukai rokok sebesar 23% dan Harga Jual Eceran (HJE) sebesar 35%, mempengaruhi kebijakan perusahaan dalam menentukan pembelian tembakau petani .

“Kami sempat mengumpulkan pabrikan, mereka tidak menyebutkan angka untuk mengambil atau tidak. Yang pasti satu pabrik tidak mengambil, kalau pabrik yang lain belum ada kepastian, yang jelas mereka tidak akan membeli tembakau petani sebanyak dulu,” terangnya

Ia menjelaskan, tahun ini ploting area dan target serapan tembakau mencapai 7.956 Hektare. Sedangkan ploting area tanaman tembakau tahun 2019 lalu, mencapai 4.337 hektare. Artinya petani Sumenep melampaui target dalam menanam tembakau.

“Tahun ini telah melebihi target tanam tembakau jika dibandingkan tahun sebelumnya, yakni sebesar 30 persen,” jelasnya.

Untuk itu, pihaknya megimbau agar petani tembakau Sumenep membatasi jumlah tanaman yang sudah ada dan tidak menanam lagi.

EDITOR: FERRY ARBANIA