Eks Ketua Panwaslu Soroti Tokoh Kiai Tak Dapat “Porsi” Calon Bupati Sumenep

0
224
Zamrud Khan,SH bersama Arief Budiman Ketua KPU RI [Dok. Maduraexpose.com]

MADURAEXPOSE.COM, SUMENEP–Eks Ketua Pengawas Pemilu (Panwaslu,sekarang namanya diganti menjadi Bawaslu,Red) Kabupaten Sumenep Zamrud Khan,SH menyayangkan tidak masuknya tokoh pesantren seperti Kiai dalam nominasi bakal Calon Bupati Sumenep seperti yang sudah tersiar dimedia saat ini.

Sebut saja PKB dan sejumlah parpol koalisi justru merekom non kader seperti Fattah Jasin-Ali Fikri sebagai Bacabup-Bacawabup. Sedangkan Nyai Eva alias Nyai Dewi Khalifah ketua DPC Hanura justru direkom PDI Perjuangan sebagai Bacawabup dari Bacabup Achmad Fauzi.

Dijelaskan Zamrud, untuk Pilkada Sumenep 9 Desember 2020 ini, posisi kyai dan nyai sebagai cawabub di karenakan antara sosok kiyai atau nyai yang berpolitik dan yang tidak berpolitik diduga tidak selalu sejalan dan seirama.

“Sehinggah peran kyai dan nyai dianggap sebagai radiator politik praktis yang bisa mendinginkan suasana politik di sumenep,”terang Zamrud Khan dalam keterangannya yang diterima Maduraexpose.com, Kamis 30 Juli 2020 malam.

Mantan Panwaslu Kabupaten Sumenep yang berprofesi Advokat dan aktivis anti korupsi inipun menganalisa, bahwa porsi politik tahun 2020 terkait juga dengan kantong suara santri yang patut diduga menjadi bancaan kaum elite politik demi melanggengkan kepentingannya.

“Ironisnya, dalam perjalanan partai PKB dan koalisinya ini justru di kuasai oleh non kader partai. Padahal disana adalah basisnya kyai dan santri. Tetapi ini bukan sesuatu yang salah karena selama mengikutin aturan perundang-undangan siapapun boleh saja menjadi “pengantin politiknya”, sambung Zambrud Khan,SH.

Zamrud juga tidak menafikan, bahwa Politik itu dinamis dan tidak statis.
“ Contoh sebagaimana wawancara kita beberapa bulan lalu, bahwa bisa saja rekom politik itu berubah dan itu terbukti, bagaimana kader politiknya sendiri di tinggalkan oleh partainya seperti Hanura. Lebih aneh lagi justru partai PKB , yang tiket rekomnya jelas memenuhi syarat, justru rekomnya jatuh ke tangan “non kader” partai,” demikian Zamrud mengulas panjang lebar.

Meski dalam ranah politik sebuah manuver dianggap hal yang biasa, namun dirinya menyayangkan peluang besar tidak dimanfaatkan oleh parpol.

“Nah, ini justru disayangkan mas, partai lainnya “tidak cerdas” dan smart dalam mengambil bagian. Padahal partai lainnya juga bisa mengusung calonnya sendiri , sehinggah Sumenep tidak hanya head to head, tetapi bisa lebih dari sekedar 2 calon. Ingat mas, jangan lupa jika anda tadi bertanya mengapa atau kenapa. Maka, sudah bisa ditebak bahwa partai politik itu penuh dengan intrik dan yang ada hanya kepentingan abadi,” sindirnya.

Adik kandung pengacara kondang Azam Khan inipun melihat memperediksi bakal banyak sensasi dalam Pilkada tahun ini.

“Nah, model atau style Pilkada kali ini ada yang memborong habis partai agar berkoalisi dengan satu kepentingan. Jika ini yang terjadi, maka dapat ditebak partai Gerindra bisa saja bermesraan dengan PDIP nantinya. Ini hanya menebak bisa benar bisa saja salah. Artinya, ini sebagai obat untuk penawar ketika Partai Hanura memberikan rekomnya ke partai sebelah,” tutup Zamrud Khan.
Editor: Ferry Arbania