Kreasi Batik Santai Ala Rangsang Batik Yosowilangun

Terbit: 17 Februari 2024 | 00:00 WIB

Maduraexpose.com–Batik Lumajang tak melulu terkesan formal, ada pula model batik yang bisa digunakan untuk bersantai. Seperti hasil besutan tangan pengrajin batik Elly Hartini asal Desa Yosowilangun Lor. Perempuan ini mampu berinovasi dengan membuat batik untuk keperluan non formal.

“Batik ini bisa digunakan santai, kain yang kami gunakan juga menggunakan kain kloyor yang lebih nyaman digunakan santai,” ujar Elly Hartini.

Pemilik Rangsang Batik tersebut berhasil mengemas batik menjadi pakaian ready to wear yang bisa diaplikasikan dalam baju santai untuk sekedar travelling, kondangan atau kegiatan santai lainnya. Namun dijelaskan Elly bahwa batiknya tersebut juga pantas digunakan untuk acara formal.

Elly menjelaskan bahwa awal pembuatan batik tersebut saat usahanya mengalami penurunan permintaan akibat hantaman pandemi Covid-19 yang berimbas pada penurunan daya beli masyarakat. Waktu yang lebih luang tersebut akhirnya ia gunakan untuk membuat inovasi batik-batik baru.

Dari hasil kreasinya, akhirnya ia tercetus menciptakan batik motif kembang sepatu menggunakan batik cap. Elly menjelaskan bahwa dipilihnya media batik cap karena dapat menekan harga produksi sehingga harga jualnya lebih murah dibandingkan dengan batik tulis.

“Untuk harganya tentu lebih murah, kami menjualnya 120 ribu per potong, tentu ini lebih ramah di kantong,” pungkasnya.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Mengubah “Sampah” AMP Menjadi Berlian: Cara Bersihkan Error GSC Tanpa Upeti Premium

Terbit: 9 Maret 2026 | 09:35 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Banyak pengelola media digital terjebak dalam kepanikan saat melihat laporan Google Search Console (GSC) yang dipenuhi peringatan merah. Salah satu…

Jebakan “Streaming” Ilegal: Niat Nonton Gratisan, Saldo ATM Malah Jadi Santapan

“Eskalasi ancaman siber melalui platform distribusi konten ilegal mencerminkan rendahnya tingkat ‘cyber hygiene’ di tengah masyarakat digital. Secara administratif, pengawasan terhadap situs-situs berbahaya ini memerlukan kolaborasi lintas sektoral antara otoritas keamanan siber (BSSN) dan penyedia layanan internet. Pemanfaatan rekayasa sosial (social engineering) oleh pelaku kejahatan siber menuntut penguatan literasi digital yang substansial, guna memproteksi integritas data pribadi serta stabilitas sistem keuangan individu dari infiltrasi perangkat lunak berbahaya yang tersembunyi dalam konten bajakan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *