wakil-ketua-pwi-sumenep-bupati-busyro-hari-jadi Ibnu Hajar saat di wawancarai awak media, Rabu (22/10/2014)/Foto: Dok/MaduraExpose.com

MaduraExpose.com- Icon kebudayaan yang mengiringi perhelatan akbar Hari Jadi Kota Sumenep, tiap tahunnya selalu terjadi perubahan.

Hal itu mendapat kritik keras dari Ibnu Hajar, Budayawan sekaligus Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumenep.

Ibnu menuding langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Kabupaten Sumenep tidak memiliki platfom kebudayaan yang jelas. Bahkan dirinya menganalogikan seperti pribahasa Madura “Mothak Meghe’ Beleng” (Kera Menangkap Belalang).

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

“ Bupati Sumenep kebingungan dalam membangun citra kebudayaan Sumenep”, kritik Ibnu Hajar didepan awak media saat menikmati suasana santai di areal Kantin DPRD Sumenep, Rabu kemarin.

Pengawas di Kementrian Agama (Kemenag) Sumenep ini juga menandaskan, sejauh ini pemerintah seringkali membangun pencitraan kebudayaan yang tidak jelas.

“Tahun kemarin memabangun Sumenep Kota Batik, Sumenep kota Bunga orang bingung jadinya. Karena tidak ada satu pun kabupaten kota yang memiliki multy dimensional talent. Gak ada itu,” sesalnya.

Ibnu mengungkapkan, pencitraan kebudayaan sumenep sebagai kota keris menurutnya tidak di imbangi dengan pemetaan terhadap centra-centra pengrajin keris, mulai jaman empu hingga sekarang.

“Kalau memang begitu, kenapa tidak di tempatkan di centra-centra kerajinan keris salah satunya di aeng tong tong. Tetapi memang persoalannya, tiap tahunnya itu kita membangun citra kebudayaan itu tidak jelas,” katanya.

Sementara itu A.Buysro Karim, Bupati Sumenep hingga berita ini diturunkan belum memberikan tanggapan apapun. Termasuk konfirmasi melalui ponsel pribadinya hari ini.

(G2k/Fer)