Wacana Madura Provinsi Miskin Kajian Akademik

Terbit: 9 November 2015 | 21:59 WIB

MADURAEXPOSE.COM,JOGJA – Wacana pemisahan wilayah Madura dari Provinsi Jawa Timur oleh P4M dinilai sebagai ambisi tendensius dan prematur. Seperti disebutkan Koordinator Front Pemuda Madura Kepulauan (FP-MK) Cabang Yogyakarta, Muchlas Samorano, bahwa P4M telah menggulirkan isu ‘tak sehat’ soal pembentukan Provinsi Madura tanpa pertimbangan matang. Bahkan disebutkan, beberapa pernyataan P4M murni ‘dusta publik’.

“Sangat jelas, tim P4M tampak memiliki pola gagasan yang keliru. Hasrat menjadikan Madura sebagai provinsi baru jauh dari pertimbangan administratif, teknis, dan fisik kewilayahan. Sederhananya, gagasan mereka tampak prematur dan terburu-buru,” ungkap Muchlas, Minggu (8/11).

Muchlas menganggap, tim P4M memiliki animo berlebihan dan tidak diarahkan pada proporsi yang tepat. Baginya, persoalan pelik yang membelit Madura hingga kini harus menjadi prioritas daripada sekadar terburu-buru mendeklarasikan provinsi anyar. Bagaimanapun, ada kriteria tertentu yang tidak sekedar hasrat sepihak untuk memekarkan Madura dari Provinsi Jatim.

“Syarat-syarat seperti kajian potensi daerah, kemampuan fiskal, kualitas SDM sebagai pautan kekayaan SDA, tentu wajib jadi pertimbangan. Sampai sekarang tim P4M lalai memperhatikan itu. Kalau soal menjadikan Madura sebagai provinsi baru, semua pasti setuju, tetapi kan ada prosedur institusi dan analisis ilmiahnya,” tegas Muchlas kepada redaksi.

Selain itu, tambah Muchlas, gagasan pembentukan Provinsi Madura tidak murni berdasarkan suara masyarakat. “Kenginan itu tidak representatif, tetapi pihak P4M memang pandai menggeneralisir bahwa suara P4M adalah suara masyarakat Madura. Buktinya, sejak awal mereka (P4M, red) mengklaim telah mengantongi restu 4 bupati, padahal itu hanya rekayasa. Apalagi soal anggapan mereka bahwa masyarakat kepulauan sepakat Madura menjadi provinsi, itu nggak lebih dari opini pribadi”.

Muchlas menambahkan, dalih kekayaan Sumber Daya Alam sebagai bukti kelayakan Madura menjadi provinsi oleh P4M, tentu perlu kajian akdemik. Kekayaan SDA harus juga ditopang oleh kualitas pengelolanya. Khawatir, Madura justru bernasib sama seperti Papua.

“Mental kebudayaan adalah hal penting untuk menopang SDA daerah. Jangan sampai kekayaan alam yang melimpah justru dikelola oleh pihak yang tidak profesional, apalagi jumlah masyarakat buta huruf di Madura masih sangat banyak. Atau seperti di Papua, meskipun kekayaan alamnya luar-biasa, tetapi malah asing yang mendudukinya. Hasilnya, daerah masih miskin dan tertinggal, sementara asing kaya-raya,” terangnya.

Tidak hanya itu, Muchlas berharap, pihak P4M bersedia menerima permintaan dialog tim FP-MK untuk membahas prospek wacana Madura Provinsi. “Kalau memang pihak P4M bersedia, ya mari kita gelar dialog terbuka untuk membahas prospek gagasan mereka di forum publik, semata-mata untuk membantu wacana ini tidak berat sebelah,” tutupnya.

(zip/fer)

  • administrator

    www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

    Related Posts

    JCH Pamekasan Kantongi Visa, Siap Terbang ke Tanah Suci Mei Mendatang

    Terbit: 21 April 2026 | 23:56 WIB Pamekasan (MaduraExpose.com) – Kabar menggembirakan bagi ribuan Jemaah Calon Haji (JCH) asal Kabupaten Pamekasan. Sebanyak 1.384 jemaah dipastikan telah melengkapi seluruh persyaratan administratif,…

    Arjuna di Cikeas dan Restu dari Majapahit

    Terbit: 31 Maret 2026 | 01:00 WIB JAKARTA — Sebuah penantian panjang di kediaman Cikeas akhirnya bermuara pada syukur yang mendalam. Minggu malam (29/3/2026), tepat pukul 19.28 WIB, keluarga besar…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *