Valentine Day, Ancaman Bagi Iman?

0
229

Oleh: Hana Annisa Afriliani,S.S

 Februari identik dengan bulan penuh cinta. Karena ada suatu hari yang dinobatkan sebagai hari perayaan cinta. Ya, di hari itulah sepasang muda-mudi biasanya mengekspresikan rasa cinta lewat beragam cara. Memberi bunga, coklat, hingga melakukan pembuktian cinta dengan berhubungan intim. Maka alat kontrasepsi menjadi salah satu benda yang paling diburu pada momentum hari kasih sayang ini.

Sungguh ironis! Betapa murah harga sebuah keperawanan demi sebuah pembuktian cinta yang belum juga halal. Padahal apa yang mereka lakukan jelas sebuah kemaksiatan yang nyata. Islam mengharamkan perbuatan zina. Bahkan menyebutnya sebagai jalan yang buruk.

Allah Swt berfirman:

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (TQS.Al-Isra:32)

Hari kasih sayang bukanlah berasal dari Islam. Budaya ini berasal dari sejarah kaum Nasrani dalam merayakan kematian seorang pendeta, St. Valentine. Ia dihukum mati karena menyatukan cinta sepasang kekasih pada tahun 278 M.

St.Valentine dihukum mati karena aksinya dinilai bertentangan dengan kebijakan kaisar Roma, Claudius 11. Pada masa itu, kaisar melarang segala bentuk pernikahan dan pertunangan di Roma. Pemuda-pemuda harus siap menjadi tentara untuk bela negara di medan perang.

Sampai hari ini, 14 Februari, menjadi perayaan global di seluruh dunia sebagai hari kasih sayang. Umat Islam ikut-ikutan dalam perayaan tersebut. Jelas hal tersebut tidak bisa dianggap wajar. Semestinya seorang Muslim memiliki prinsip yang teguh sebagai wujud penjagaan atas keimanannya. Dalam Islam haram hukumnya menyerupai orang-orang kafir, termasuk ikut-ikutan dalam perayaan mereka.

Rasulullah Saw bersabda:

“Orang yang menyerupai suatu kaum, ia bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Daud, 4031, di hasankan oleh Ibnu Hajar di Fathul Bari, 10/282, di shahihkan oleh Ahmad Syakir di ‘Umdatut Tafsir, 1/152).

Dengan demikian, setiap Muslim harus memahami bahwa perayaan hari kasih sayang merupakan ancaman bagi iman. Maka, sudah seharusnya umat Islam meninggalkannya.

Ingatlah, bahwa sebaik-baiknya seorang Muslim adalah yang senantiasa memurnikan ketaatannya kepada Allah swt, tanpa sejengkal pun melanggar syariatNya. Karena akan ada konsekuensi yang kelak akan ditanggung, yakni pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.

Lebih jauh lagi, perayaan Valentine ini seolah sengaja dikampanyekan secara massif kepada kaum Muslimin agar mereka merasa tak berdosa ikut-ikutan di dalamnya. Ini jelas merupakan jebakan liberalisme agar umat Islam semakin jauh dari ajaran agamanya. Mereka digiring menuju moderasi beragama ala Barat. Sungguh berbahaya, bukan?

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sungguh kalian akan mengikuti jalannya umat-umat terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereka masuk lubang dhab (sejenis kadal), maka kalian akan mengikutinya”. Lalu para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksud umat terdahulu itu adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah menjawab: “siapa lagi kalau bukan mereka?” (Muttafaqun ‘alaih).

Semoga saja kita terhindar dari jenis kaum yang bisanya membebek terhadap budaya barat termasuk Valentine ini. Wallahu alam. (rf/v-is)