Sumenep (MaduraExpose.com)– Tokoh Masyarakat Peduli Konsumen Sumenep (MPKS) Edy Junaidi meminta pihak berwenang untuk segera menutup Kantor Adira Finance dan mencabut ijin operasionalnya, karena dianggap sering merugikan dan meresahakan konsumennya yang ditimbulkan oleh aksi premanisme para debt collector nya.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Pihaknya juga menuding Adira Sumenep tidak jelas dan membiarkan debt collectornya bertindak anarkhis seperti maling motor dengan modus perampasan di jalanan.

“Perampasan motor di jalan-jalan oleh para debt collector (DC) Adira tak ubahnya seperti maling speda motor”, teriak Edy Junaidi saat menggelar aksi unjuk rasa ke kantor ADIRA FINANCE cabang Sumenep, Madura.

Direktur LSM Penegak Pilar Bangsa ini juga mendesak aparat kepolisian bersikap tegas dengan menindak para debt collector yang telah berbuat kriminalisasi terhadap konsumen. Menurutnya, terlalu banyak kasus pemukulan dan kekerasan yang berujung perampasan speda motor yang diduga dilakukan dengan terang-terangan oleh para DC.

“Polisi harus tegas menindak para debt collector yang jelas-jelas melakukan tindakan perampasan dan kekerasan sesuai dengan koridor hokum yang ada”, timpal Edy dengan nada kesal.

Pihaknya juga mencontohkan, tindakan kekerasan para debt collector tak hanya dilakukan terhadap para creditor speda motor ataupun mobil, tapi sudah keterlaluan karena korbannya juga kalangan Pers.

Terkait dugaan kekerasan dan premanisme para debt colletor terhadap insane Pers, di benarkan kalangan wartawan harian yang meliput aksi unjuk rasa di depan kantor PT. Adira Finance Sumenep Rabu (10/09/2014) lalu.

Moh. Rahman, wartawan telivisi Trans7 juga sempat terlibat aksi saling tuding dengan petugas Adira yang menghalang-halangan tugas jurnalistik.
demo-8-Copy #Kantor Adira Finance Sumenep di demo masyarakat dan LSM karean tindakan debt collectornya sering melakukan perampasan dan kekerasan terhadap insan Pers.(Foto:KoranMadura)

Menurut Rahman, tak seharusnya petugas Adira itu menghalang-halangi kinerja Pers yang dilindungi hokum. Di era keterbukaan informasi public saat ini, masyarakat berhak mengetahui bagaimana Adira Finance sebenarnya.
“jika selama ini telah terjadi banyak perampasan motor, dan pekerja media juga di larang meliput, artinya apa yang terjadi di lapangan itu tidak sepenuhnya keliru”, tandasnya mengkritisi.
(mcn/ksr/bbs/fer)