Terampil Membatik Bersama Santriwati Aqidah Usmuni

0
500

Pengasuh Ponpes Aqidah Usmuni Tarate, Nyai Hj Dewi Khalifah, mengakui membatik bagi santrinya sebagai tambahan pelajaran di pesantren, untuk mengenalkan budaya batik tulis kepada masyarakat Sumenep, yang selama ini masih kurang apreasi terhadap batik.

”Jadi kami mencoba mengenalkan batik kepada masyarakat melalui para santri yang nantinya berada di tengah–tengah masyarakat. Dan keterampilan batik ini bisa dijadikan home industri yang menghasilkan uang,” katan Dewi Khalifah, saat ditemui Surya, di rumahnya.

Selain itu, ia ingin melestarikan budaya batik yang sudah berlangsung sejak turun temurun. Sebab budaya batik selama ini sudah hampir punah, sehingga perlu diselamatkan dan dilestarikan. Dan dalam satu bulan, bisa menghasilkan 200 – 300 lembar batik tulis Sumenep.

Lebih lanjut, Nyai Eva, sapaan akrab Dewi Kalifah, menyadari, belajar membatik bagi santri, tidak hanya sebagai pelestarian budaya, tapi sebagai pekerjaan yang dapat menghasilkan uang, untuk mendongkrak prekonimian masyarakat.

Kemudian, santri yang sudah memiliki keterampilan membatik sejak masih di pesantren, bisa menerapkan nantinya ketika sudah di kampung halamannya. “Untuk membudayakan batik di Sumenep, tidak hanya mengenalkan batik pada santri yang masih di pesantren, melainkan juga terhadap para alumni ponpes Aqidah Usmuni, yang tersebar diseluruh Madura,” papar Nyai Eva.

Ciri khas batik yang dijadikan unggulan, adalah Malate Sato’or, yang menjadi ciri khas keluarga Keraton Sumenep ‘tempoe doeloe’ ketika mengadakan acara khusus. Malate sato’or, merupakan perlambang kewibaan kaum bangsawan yang banyak dicintai rakyatnya.

Seperti bunga melati yang biasa dilihat setiap hari, bunga melati di cintai oleh semua orang, selain warnanya indah, baunya harum juga sedap dipandang mata. “Kami sudah mengajukan hak paten untuk ciri khas batik Sumenep, berupa gambar malate sato’or, namun hak patennya masih belum keluar,” imbuhnya.

Dewi Ariyanti (16), salah satu santri yang sekaligus siswa kelas X Madrasah Aliyah Aqidah Usmuni, mengaku bangga dengan pelajaran tambahan seni membatik di pesantren. Selain menambah ilmu keterampilan, juga ingin mengenalkan Sumenep lewat seni batik, karena selama ini Sumenep, masih belum bisa menampil ciri khas batik yang akan menjadi ikon sumenep.

Menurut Dewi Ariyanti, seni batik tidak hanya ada di Sumenep, melainkan juga ada di daerah lain seperti pamekasan dan juga Daerah Solo yang memang terkenal dengan budaya batiknya.

”Kami ingin mengenalkan ciri khas batik Sumenep ke masyarakat internasional, karena selama ini, Sumenep masih belum mempunyai batik yang dijadikan ciri khas. Padahal batik di sumenep, sudah ada sejak zaman dulu,” timpalnya. (riv/trb)