MADURA EXPOSE—Pemerintah Somalia telah melarang perayaan Natal, mengatakan bahwa festival Kristen itu mengancam warisan Islam di negara tersebut.

Situs Harar24 melaporkan hari Kamis (24/12/2015) bahwa para pejabat di Departemen Agama negara itu mengatakan badan-badan keamanan telah diarahkan untuk menindak tegas terhadap siapa pun yang mereka duga merayakan Natal yang bertentangan dengan hukum Islam di negara itu tahun ini.

“Merayakan Natal bagi umat Muslim di Somalia bukanlah hal yang dibenarkan, hal-hal serupa dengan itu untuk ditinggalkan,” kata pejabat tinggi pemerintah Mohamed Kheyrow seperti dikutip.

“Perayaan itu dengan cara apa pun tidak berhubungan dengan Islam,” seorang pejabat kementerian urusan agama menambahkan.

Warga negara asing dipahami bisa secara bebas untuk merayakan Natal di rumah mereka sendiri, tetapi hotel-hotel telah diberitahu untuk mencegah segala bentuk perayaan itu secara publik. Namun demikian larangan itu tidak akan berlaku bagi pasukan penjaga perdamaian PBB atau Uni Afrika yang beroperasi di negara itu, menurut BBC.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Larangan itu telah diperkenalkan sebagai reaksi bagi ribuan eks pengungsi negara itu yang saat ini kembali ke Somalia di mana negara tersebut tengah dalam proses pemulihan setelah bertahun-tahun perang saudara.

Setelah bertahun-tahun menghabiskan hidup di Barat, banyak dari mereka sekarang kembali ke tanah air mereka membawa kebiasaan orang Eropa, termasuk perayaan Natal.

Departemen Agama Somalia prihatin bahwa praktek tersebut bisa menularkan dan pada akhirnya menyebabkan umat Islam untuk murtad masuk agama Kristen.

Kekhawatiran lain adalah bahwa perayaan Natal secara publik akan menjadi magnet bagi serangan jihad oleh kelompok afiliasi Al-Qaidah di Somalia, Al-Shabaab, yang sebelumnya telah menargetkan hotel populer dengan pengunjung Barat di ibukota negara itu, Mogadishu.

Somalia secara resmi mengadopsi hukum Islam versi mereka pada tahun 2009, dengan 99,8% dari 10 juta penduduk negara itu beragama Islam. Penganut Kristen sendiri tetap sangat langka, dengan jumlah merekakurang dari 0,1%, menurut sebuah studi 2010 oleh Pew Research Center.

(st/harar24/vis)