Scroll untuk baca artikel
KOLOM

Serangan Fajar, Ambil Uangnya Jangan Pilih Orangnya?

Avatar photo
199
×

Serangan Fajar, Ambil Uangnya Jangan Pilih Orangnya?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Saddam Husain, M.A. (Dosen STAIN Majene)

Saddam Husain, M.A. (Dosen STAIN Majene)

Perhelatan akbar demokrasi di depan mata. Pada pesta demokrasi ini, rakyat akan memilih presiden, wakil presiden, DPD, DPR RI, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten dan kota. Hanya saja perhelatan ini masih menyisihkan suatu kegundahan, yaitu adanya politik uang atau lebih populer di masyarakat dengan sebutan “serangan fajar”.

Serangan fajar begitu mengakar di masyarakat setiap kali akan menggelar perhelatan pesta demokrasi. Berkaca pada tahun pemilihan umum tahun 2019, Burhanuddin Muhtadi Guru Besar Bidang Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta menyebutkan, kalau pada pemilu 2014 dan pemilu 2019, ada 63,5 juta pemilih yang terlibat dalam politik uang untuk pemilihan legislatif. Lebih miris lagi, mereka yang terlibat sebagai penerima serangan fajar menganggap hal tersebut merupakan hal yang lumrah dan biasa-bisa saja. Mengutip hasil survei dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2019, sebanyak 48 persen masyarakat beranggapan jika politik uang hal yang biasa. Artinya politik uang sekan menjadi budaya yang dianggap sah-sah saja dilakukan.

Survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan 40 persen responden menerima uang dari para peserta Pemilu 2019 tetapi tidak mempertimbangkan untuk tetap memilih mereka. Sementara itu, 37 persen lainnya mengaku menerima pemberian uang dan mempertimbangkan si pemberi untuk dipilih. Jika dilihat dari data ini maka sebenarnya lebih banyak orang yang tidak merubah pilihannya walau telah menerima politik uang.

Jika demikian, apakah boleh menerima uang serangan fajar walau tetap berteguh pada pilihan hati? Benarkah ungkapan “ambil uangnya, jangan pilih orangnya.

------------------------