Tak ada pembeli, puluha PKL Taman Bunga yang di "lempar" ke luar areal taman bunga gigit jari. Foto: Ferry Arbania/MaduraExpose.Com.

MADURA EXPOSE–Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) Taman Bunga (TB) menjerit karena dagangan mereka sepi pembeli, sejak awal Ramadhan, Senin 6 Juni 2016 lalu.

Sepinya pembeli ini sangat dirasakan oleh sekitar 50 PKL yang dipindah dari luar area taman, yakni arah timur mulai depan GNI, depan Kantor PU Bina Marga hingga depan Kantor Disbudparpora, Kota Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Sejumlah pedagang yang dikonfirmasi Madura Expose mengaku diperlakukan tidak adil, karena puluhan pedagang yang dipindah tersebut merupakan pemilik lapak yang tergabung dalam Paguyuban PKL Taman Adipur atau Taman Bunga Sumenep.

“Saya dan puluhan PKL Taman Bunga terpaksa gigit jari karena tidak dibolehkan berjualan di areal Taman Adipura. Akibatnya, bukan hanya sepi pembeli, malah nyaris tidak ada yang singgah di stand kami,” ujar Ahmad Saleh, seorang PKL asal Desa Marengan, Sumenep, Madura saat berbincang dengan Madura Expose, Rabu Malam [8/6/2016] .

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Tak hanya Saleh, sejumlah PKL lain yang mengaku dilarang berjualan di areal Taman Bunga pun memberikan pernyataan yang tak jauh berbeda. Mereka mengaku diperlakukan tidak adil oleh pemerintah daerah dalam memperlakukan semua anggota paguyuban pedagang yang sudah bertahun-tahun berjualan dilokasi yang tak jauh dari bangunan Masjid Jamik Sumenep tersebut.

“Harusnya, kalau ada yang dilarang jualan di Taman Bunga, semuanya dilarang juga dong. Jangn pilih kasih seperti ini. Tiap malam jaulan kami nggak ada yang beli. Bayaran lampu ditagih tiap malam antara Rp 5000-Rp 8000 per PKL.” imbuh salah satu pedagang yang mengenakan Hijab.

Pantauan Madura Expose hingga pukul 19.00 WIB, lokasi stand milik puluhan PKL yang tidak kebagian tempat berjualan di Taman Bunga jumlahnya hampir 50 PKL. [Ferry]

HotNews:  Tak Hanya Media, Warga Biasapun Jadi "Korban" Nyinyir Wakil Ketua DPRD Sumenep,Kemana Soengkono?