IlustrasiNET

Seperti halnya di Filipina, prostitusi di Vietnam tumbuh dan merebak lantaran kebutuhan biologis para tentara Amerika Serikat (AS) sejak era Perang Vietnam.

Belasan, bahkan puluhan ribu pekerja seks komersial (PSK) diketahui masih menjajakan “servisnya” hingga kini secara terselubung.

Padahal, prostitusi dan eksistensi rumah bordil di “Negeri Nguyen” itu termasuk ilegal dan jika sudah berurusan dengan ranah hukum, ganjaran hukumannya terbilang berat karena prostitusi termasuk dianggap kasus kejahatan serius oleh pemerintah Vietnam.

Akan tetapi, prostitusi tetap saja “hidup” di tengah-tengah masyarakat Vietnam di berbagai sudut kota-kota besar, terutama di Ibu Kota Ho Chi Minh City.

Biasanya transaksi seks terselubung ini, dijalankan antara pelanggan dan PSK di berbagai hotel dan penginapan “kelas melati”, sebagaimana halnya di Indonesia.

Tidak hanya wanita, para pria yang populer disebut Trai Goi atau “cowok panggilan” juga sering terlihat menjajakan diri di pinggir-pinggir jalan kota besar, seperti Ho Chi Minh City, Hanoi dan Hai Phong.

Untuk di Ibu Kota, para PSK ini banyak terlihat di kawasan Hoa Binh Park, tepatnya di sudut jalan antara Jalan Hung Vuong dan Jalan Nguyen Chi Thanh.

Begitu pun di kawasan Jalan Le Tuan Mau, Jalan Kinh Duong Vuong, Distrik 5 Jalan Hong Bang, Distrik Tan Binh, distrik 23-9 Park, serta Distrik Thu Duc dan Distrik T-Road 12.

Mereka juga tak hanya muncul di malam hari tapi juga di siang ‘bolong’, menawarkan transaksi seks kepada para pengendara yang lewat, lantaran memang tak ada tempat-tempat khusus macam “red district” sebagai lokasi resmi, untuk mereka menjajakan diri.

Tapi setali tiga uang dengan di berbagai negara lain, prostitusi terselubung di Vietnam tak jauh dari dunia hitam perdagangan manusia.

Di Ho Chi Minh City, banyak gadis-gadis di bawah umur yang terpaksa maupun dipaksa terjun ke bisnis ‘esek-esek’ dengan pembenaran kebutuhan hidup sehari-hari.

Kendati Kepolisian Vietnam sering menggelar razia, tapi di kemudian hari para PSK ini akan tetap kembali menjajakan transaksi seks. Bahkan, diketahui beberapa dari PSK Vietnam yang di bawah umur, “diekspor” ke Makau dan China.

Ketimbang melarang prostitusi terselubung yang mendorong potensi kejahatan seksual dan perdagangan manusia, beberapa waktu lalu muncul desakan melegalkan prostitusi.

“Kita harus bisa menerima dan meregulasikan (prostitusi) dengan satu paket aturan,” ungkap Le Van Quy, seorang pejabat senior Dinas Sosial Pemerintah Kota Ho Chi Minh City, seperti dikutip Thanh Nien News, pada Agustus 2015 lalu.

“Jika kita tidak mengubah (kebijakan soal prostitusi), kita hanya akan mengejar mereka (para PSK) tiada henti. Kita mungkin tidak akan menyebut tempat (prostitusi) sebagai red light district, tapi mungkin dengan sebutan area prostitusi yang terkonsentrasi (lokalisasi),” tambahnya.

Akan tetapi desakan itu tentu mengundang kritik dan penentangan. Seperti yang dituturkan salah satu aktivis sosial, Phung Quang Thuc.

“Kita tak boleh melihat prostitusi sebagai satu hal yang harus diterima (masyarakat). Prostitusi hanya akan terus tumbuh dan menghancurkan semua tradisi positif Vietnam,” timpal Thuc.

Editor : Syafri Ario

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM