Scroll untuk baca artikel
Dewan Pers

Politik Belah Bambu,“Yang satu diangkat yang satu diinjak”

Avatar photo
244
×

Politik Belah Bambu,“Yang satu diangkat yang satu diinjak”

Sebarkan artikel ini

Namun apa yang terjadi pada media belakangan ini, mungkin kita sering melihat para presenter televisi, ketika dalam mewawancarai narasumber layaknya seorang hakim terhadap terdakwa cenderung menyudutkan pertanyaan-pertanyaan sugestif yang seharusnya klarifikatif dan alternatif. Bahkan narasumber mempunyai Hak untuk tidak menjawab atau No coment apabila pertanyaannya dianggap pribadi, dan sepatutnya narasumber diperlakun VIP (khusus) yang dihormati.

Apalagi saat ini sedang maraknya berita berita yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Dan berita tidak benar alias “HOAX” ironinya media komparador penebar fitnah dan dusta ini dilakukan oleh media mainstream dijadikan kebenaran, dan defiasi sebagian media untuk menggiring opini kepada target pesanan sponsor dengan memonopoli kebenaran atas nama negara ..NKRI..Agama…dengan jargon menjual penderitaan rakyat. Dengan memutarbalikan fakta.

Jangan harap seimbang beritanya (Cover Both side), bahkan lebih celaka 12 lagi, media semacam ini bukan hanya saja “trial by the press” tapi juga sudah merampas martabat harga diri bangsa. Sadar atau dengan tujuan yang sadar bahwa bangsa kita sudah terjangkit wabah virus hipokritisme yang penuh kepura-puraan dan kemunafikan, atau dengan Kata lain sudah terjadi “paradoks global” yang seolah-olah benar namun esensinya tidak ada kebenaran hakiki.

Persoalan pers dan media tidak berhenti hanya sampai Persoalan Profesi saja. Kita juga rasakan animo PUBLIK yang begitu antusias ingin menjadi jurnalis namun dengan Cara yang instan, dengan pemahaman hanya profesi inilah yang mempunyai posisi tawar sebagai “bergining posisions” alat untuk memeras, memuluskan persoalan dengan menunjukan ID Pers. Padahal, “belum tentu paham ilmu jurnalistiknya” atau yang lebih trend dengan istilah pasukan wartawan “bodrex”.

------------------------