Scroll untuk baca artikel
Dewan Pers

Politik Belah Bambu,“Yang satu diangkat yang satu diinjak”

Avatar photo
242
×

Politik Belah Bambu,“Yang satu diangkat yang satu diinjak”

Sebarkan artikel ini

Dibidang politik..banyak insan Pers dengan sengaja meninggalkan kemerdekaannya, netralitas, independen, harga diri, dengan menggadaikan idealismenya menjadi alat komoditas partai politik tertentu dan sudah terjadi primordialisasi, yaitu kepentingan di atas kepentingan pribadi, kroni, dan golongan.

Karena fenomenanya penguasa dan pengusaha pers banyak didominasi para kapitalis dan politikus yang sudah jelas ada pretensi “udang dibalik rempeyek”. Dan yang sangat miris, para jurnalisnya bukan berperan sebagai anjing pelacak “Watch Dog”, justru malah menjadi anjing penjaga “Under Dog”?
Dunia hiburan dan media infotainment

Kita lebih mengenal “Good News is A Bad News “berita baik sekaligus berita yang buruk”, dengan para awak media yang dibekali ilmu jurnalis seadanya dengan menulis berita gosip, sensasi dan fitnah, mencuri perhatian masyarakat dengan target rating-sharing tak peduli berita itu berita busuk, koran kuning mencemarkan nama baik, fitnah, dstnya. Semakin korbannya menderita, maka ia merasa berhasil.

Dalam kategori jurnalis, Infotainment ini bukan merupakan bagian dari Karya jurnalis karna bertentangan dengan prinsip kode etik jurnalistik. Sedangkan dalam persfektif Islam gosip (bergunjing membuka aib orang lain) merupakan dosa besar, diibaratkan sama saja memakan bangkai saudaranya sendiri, hal yang sama juga pernah disampaikan GUSDUR bahwa infotainment adalah “HARAM”, dan sepatutnya MUI segera mengeluarkan fatwa terhadap media-media tersebut.

Dunia komunikasi kita sebagai insan Pers dalam membuat sebuah berita tidak hanya dituntut memenuhi kebutuhan 5 W +1 H, tetapi sebagai pers yang bertanggung jawab, bahwa objektifitas sebuah berita tidak bisa disajikan secara utuh apabila akan berdampak negatif bagi masyarakat.

------------------------