MADURA EXPOSE–Dugaan penipuan bermodus penggandaan uang yang dilakukan Dimas Kanjeng Taat Pribadi adalah jaringan bisnis gelap. Setoran yang biasa disebut mahar itu dikumpulkan oleh koordinator yang membawahkan beberapa kota. “Jumlah uang yang mereka setorkan beragam mulai dari Rp 10-50 juta,” kata warga Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, yang dengan alasan keamanan, meminta jati dirinya tak diungkap, kepada Tempo, Selasa, 27 September 2016.

Jika dihitung, menurut sumber itu lagi, dari ratusan korban dugaan penipuan yang berdomisili di Kabupaten Situbondo saja, uang yang sudah disetorkan melalui salah seorang koordinator Dimas Kanjeng diperkirakan mencapai Rp 40 miliar. Bahkan, sumber itu menambahkan, para korban rela menjual barang-barang berharga milik mereka dan uangnya disetorkan kepada Dimas Kanjeng dengan harapan hasilnya bakal jadi berlipat ganda.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Salah satu trik dugaan penipuan penggandaan uang yang dilakukan oleh Taat Pribadi itu adalah para pengikut di padepokannya diberikan peti ‘ajaib’ berukuran kecil, yang mirip dengan kotak amal. “Kotaknya terbuat dari kayu dan ada ukiran bagus,” kata warga Situbondo itu, mengimbuhkan. Kotak tersebut dilengkapi dengan kunci gembok. “Hanya boleh dibuka sewaktu-waktu dan sudah ditentukan tanggal pembukaannya,” ujarnya.

Kotak itu dipercaya berisi uang berlipat ganda, yang tiba-tiba muncul beberapa lama setelah korban menyetor uang lewat koordinator pengikut Taat di Situbondo. “Tak sampai hitungan tahun, hitungan bulan dipercaya akan muncul uang berlipat ganda,” ujar sumber Tempo tersebut berdasarkan pengakuan sejumlah korban. Namun, nyatanya, uang yang dipercaya muncul secara gaib itu tak ada. “Hasilnya nihil,” kata sumber ini lagi.

[TMP]