Oleh: Yulida Hasanah

SEBUAH perjalanan yang tak ringan bagi seorang wanita yang sedang hamil tua. Ketika panggilan iman telah tertancap dalam dada. Maka hijrah menuju dari Mekah ke Madinah sebagai bagian dari perintah Allah SWT kepada sang baginda Nabi Saw pun dilalui. Wanita mulia tersebut bernama Asma’ binti Abu Bakar Ash Shiddiq, seorang shahabat Rasulullah Saw yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya, yang mempersembahkan pengorbanan terbaik di masa hijrahnya Rasulullah Saw dari Mekah ke Madinah. Dialah sahabiah nabi yang digelari ‘wanita dengan dua ikat pinggang’.

Asma’ Binti abu Bakar melahirkan bayi laki-laki saat perjalanan hijrah dari mekah menuju Madinah, tepatnya di pintu kota Madinah yakni Quba. Bayi laki-laki yang kelak akan menjadi pemuda kesatria, pejuang Islam yang berani membela kebenaran agama Nabinya.

Bayi laki-laki Asma’ yang sebelum disusui, dibawa menghadap Rasulullah untuk ditahniq dan didoakan oleh beliau. Bayi itupun diberi nama Abdullah bin Zubair, Abdullah adalah nama kesukaan Rasulullah. Abdullah kecil dididik oleh kedua orang tuanya yang merupakan mujahid dan mujahidah Islam yang terpercaya. Zubair Bin Awwam dan Asma’ Binti Abu Bakar adalah pasangan suami istri yang memiliki misi pendidikan Islam bagi anaknya dan menanamkan visi syurga sebagai cita-cita tertinggi dalam keluarga mereka.

Orang tua yang solih dan sistem yang mendukung telah melahirkan generasi kesatria yang terlihat sejak usianya masih terbilang belia. Maka, tak aneh jika ada sebuah kisah tentang sikap kesatria Abdullah Bin Zubair yang telah terlihat sejak kecil,  hasil dari pendidikan Islam dari kedua orang tua mereka dan dari menerapan sistem pendidikan Islam setelah hijrahnya kaum muslimin ke Madinah.

Suatu ketika Khalifah Umar Bin Khaththab yang memliki postur tinggi besar dan berwibawa, berjalan melewati anak-anak yang sedang bermain di jalan. Melihat kedatangan Khalifah Umar, mereka lari ketakutan kecuali Abdullah bin Zubair yang tetap berdiri tanpa takut sedikitpun, bahkan ia menatap wajah Umar.

Umar Bin Khattab melihat Abdullah berbeda dengan teman seusianya dan mengagumi sikapnya, lalu bertanya: “ Mengapa engkau tidak lari bersama teman-temanmu?”

Abdullah bin Zubair kecil tanpa segan menjawab dengan lantang: “Wahai Amirul Mu’minin, aku tidak melakukan kejahatan apa pun mengapa harus lari? Jalan ini tidak sempit, mengapa aku harus menyingkir memberi jalan untukmu?”

“Mengapa harus lari?” pertanyaan yang  sekaligus menjadi jawaban bahwa dengan tidak lari dan menghindarpun toh akan selamat. Hanya orang yang berdosa dan melakukan kejahatanlah yang pantas untuk takut dan lari.

Nah….tak hanya ketika kecil saja, karakter kesatria Abdullah Bin Zubair ini muncul. Namun, memasuki usia remaja yakni usia 17 tahun. Dia telah menjadi pasukan ekspedisi jihad untuk membebaskan Afrika.

Dalam peperangan tersebut, jumlah personil diantara dua pasukan jauh tidak seimbang. Jumlah pasukan Muslimin hanya 20.000 orang, sedangkan tentara musuh berjumlah 120.000 orang. Keadaan ini cukup membuat kaum Muslimin kerepotan melawan gelombang musuh yang demikian banyak, walau hal itu tdak membuat mereka gentar. Sebab bagi mereka, perang adalah mencari kematian sedangkan ruhnya bisa membumbung menuju surga sebagaimana yang telah dijanjikan Tuhan mereka.

Melihat kondisi yang kurang menguntungkan tersebut, Abdullah bin Zubair berpikir mencari rahasia kekuatan lawan. Akhirnya ia menemukan jawaban, bahwa inti kekuatan musuh tertumpu pada Raja Barbar yang menjadi panglima perang mereka. Dengan penuh keberanian, Abdullah mencoba menembus pasukan musuh yang berlapis menuju ke arah panglima tersebut.

Upayanya tidak sia-sia, ketika jarak antara dirinya dan Raja Barbar telah dekat, ia menebaskan pedangnya menghabisi nyawa panglima kaum musyrik itu. Panji pasukan lawan pun direbut oleh teman-temannya dari tangan musuh. Dan ternyata, dugaan Abdullah tidak meleset, segera setelah itu semangat tempur pasukan musuh redup dan tak lama kemudian mereka bertekuk lutut di hadapan para mujahid yang gagah berani.

Abdullah Bin Zubair, salah satu kesatria Islam yang namanya mewangi hingga sekarang. Putra dari seorang wanita mulia, Asma’ Binti Abu Bakar. Cucu dari sahabat Rasulullah Saw tercinta, Abu Bakar Ash Shiddiq. Dan bayi pertama yang lahir saat peristiwa paling berharga dari kaum muslimin, yakni hijrahnya dari Mekah ke Madinah. Sebuah tonggak awal menancapkan kepemimpinan politik, meri’ayah umat manusia yang bernaung di dalamnya.*

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM