Scroll untuk baca artikel
KOLOM

Paulus Mujiran: Ketika LSM Mengkritik Diri Sendiri

Avatar photo
140
×

Paulus Mujiran: Ketika LSM Mengkritik Diri Sendiri

Sebarkan artikel ini
Karikatur LSM (Istimewa)
  • Oleh Paulus Mujiran

ERA reformasi dan demokratisasi belum mampu mendobrak citra lembaga swadaya masyarakat (LSM). Makin santer terdengar ke permukaan keberadaan aktivis LSM tidak ubahnya dengan aktivis parpol yang berpindah institusi tergantung siapa yang mendanai. Hal ini tidak lepas dari sedikitnya LSM yang mandiri dengan sumber pendanaan sendiri. Kebanyakan LSM mengandalkan dana eksternal – akibatnya disamping tidak terjadi penguatan kelembagaan, idealisme LSM tidak menjadi kenyataan.

Kebanyakan LSM bahkan menceburkan diri dalam pragmatisme sikap “membela yang mbayar” dan bukan membela yang benar. Banyak LSM yang didanai konglomerat hitam sehingga tidak kritis terhadap pembalakan liar, perusakan lingkungan. Atau juga LSM yang sengaja dipelihara oknum pejabat pemerintah dengan harapan menekan sikap kritisnya. Patut dipikirkan untuk mengevaluasi kinerja LSM, dalam kaitannya dengan kepentingan masyarakat secara luas, terlebih lagi bagi upaya memperlebar ruang artikulasi kepentingan masyarakat sipil.

Kondisi demikian terjadi karena krisis ideologi yang melanda LSM. Mudahnya regulasi yang diberikan pemerintah dalam mendirikan LSM (dalam hal tertentu juga lembaga-lembaga kajian) menyebabkan banyak LSM berdiri tetapi dengan platform perjuangan dan pelayanan yang tidak jelas.

Bahkan beberapa LSM berdiri tanpa prosedur hukum karena tidak ada tindakan tegas aparat pemerintah. Krisis ideologi juga kian diperburuk dengan tidak tersedianya musuh bersama yang dihadapi LSM

Jika di masa Orde Baru rezim Orba dapat dijadikan simbol musuh bersama, di era reformasi hampir tidak ada musuh bersama yang mampu menyatukan LSM.

------------------------