Sayang seribu sayang, Anda tak bisa memilih mertua seperti yang diinginkan. Ketika Anda jatuh cinta kepada seseorang, orangtuanya tetap satu “paket” dengan anaknya. Bagi banyak pasangan, hal ini bukanlah masalah dan mereka bisa baik-baik saja dengan mertuanya. Sementara yang lainnya merasa, mertua ibarat “monster” yang siap menerkam kapan saja.
ist_teruskanCom_jiilbab_lebih_indah
Akar masalah dari tidak harmonisnya hubungan mantu-mertua, sebagian besar disebabkan perbedaan dalam hal pendidikan keluarga. Setiap keluarga punya nilai, tradisi, dan kebiasaan, mulai dari cara membesarkan anak hingga melakukan pekerjaan rumah, benar-benar sudah mendarah daging pada diri masing-masing.

Jadi, jika cara Anda dan keluarga mertua berbeda, tentu akan menimbulkan masalah. Agar hubungan menjadi baik dengan mertua, Anda dan pasangan harus bisa menunjukkan kesatuan pendapat. Memang sulit bertahan dalam mengikuti peraturan orangtua, tapi jika Anda berdua setuju dan saling mendukung, jalan akan mulus. Bekerja samalah dengan kemampuan komunikasi yang dimiliki.

Di bawah ini ada beberapa masalah umum yang bisa menyebabkan konflik antara pasangan dan mertua, juga tips untuk mengatasinya.

1. Kebiasaan Menyebalkan
Setiap orang, termasuk mertua, punya kebiasaan yang menyebalkan. Misalnya, menceritakan masalah berulang kali. Sebagai pasangan, buatlah daftar menyebalkan dari kedua orangtua, lalu kumpulkan semua maksud baik mereka. Akhirnya, Anda berdua setuju mengacuhkannya atau menertawai perilaku mereka. Jika Anda benar-benar tak bisa menerima perilakunya, diskusikan baik-baik dan minta mereka berhenti melakukan hal itu. Bisa melalui candaan atau ajak mereka pergi dan berbicaralah dengan sopan.

2. Mengritik
Ada mertua yang tak ragu menceritakan kepada orang lain jika mereka merasa Anda berbuat salah. Hal ini tergantung kepada Anda untuk memutuskan, komentar apa yang akan diacuhkan. Mungkin Anda mengacuhkan komentarnya soal masakan, tetapi putuskan untuk berhenti berkomentar jika mereka sudah ikut campur dalam hal karier atau prinsip berkeluarga.

3. Menjaga Hubungan
Ada keluarga berpendapat, sangat penting untuk bicara tiap hari dengan mertua. Namun, ada juga pendapat, cukup sesekali saja bicara lewat telepon. Tak ada yang benar atau salah karena tradisi pasangan berbeda dengan Anda dan itu harus bisa diterima. Namun, jika dirasa hal ini menjadi masalah, Anda harus mengatasinya. Misalnya jika menelepon, tak pernah ada yang menjawab, sebagai gantinya, berkunjung saja ke rumahnya. Bukankah ini hal yang baik?

4. Kebebasan
Dalam suatu diskusi, beberapa keluarga merasa tak baik membicarakan secara terbuka suatu masalah. Mungkin, ini disebabkan latar pendidikan dan kebiasaan yang berbeda. Sebagai pasangan, Anda harus menyetujui hal-hal yang sudah jadi kebiasaan. Dan, bicarakan kepada orangtua apa yang harus dirahasiakan, misalnya soal keuangan atau kesehatan. Atau, putuskan berbicara hanya dengan salah satu dari mereka saja. Yang penting, Anda berdua tahu apa yang disetujui.

5. Berkumpul dengan Keluarga
Acara perkawinan, liburan Idul Fitri atau Natal adalah salah satu penyebab perselisihan di banyak keluarga. Cobalah merencanakannya baik-baik dan biarkan semua orang mengetahui apa yang Anda putuskan. Anda dan pasangan mungkin juga mengetahui tradisi keluarga yang kuat, jadi siapkan untuk bertoleransi.

Untuk banyak pasangan, berhubungan dengan mertua merupakan tantangan panjang dalam kehidupannya, tapi banyak juga pasangan lainnya berpendapat, hal ini mudah saja jika Anda tahu lebih baik bagaimana menghadapinya.

Bagaikan peristiwa dalam kehidupan seperti memiliki bayi atau pindah rumah, yang akan menambah masalah, tapi dengan cinta kasih yang tulus dan pengertian, masalah yang timbul bisa dijadikan kesempatan untuk lebih saling mendekatkan diri.

Hidup dalam keluarga besar bisa menjadi sangat luar biasa bermanfaat. Jadi, usaha yang Anda jalankan benar-benar berharga.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

(KMP/NOV)