Merasa Tersaingi, Tokoh NU Pulau Sapeken di Fitnah Melakukan Pencabulan

0
1387

Sumenep, MaduraExpose.com- Fitnah pencabulan yang diarahkan sekelompok golongan terhadap Ustadz Achmad Holla (AH), tokoh Nahdatul Ulama (NU) bermuatan dendam dan diduga kuat karena faktor sentimen dari ormas lain yang merasa tersaingi di Pulau Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Informasi yang dihimpun MaduraExpose.com menyebutkan, Selama ini, AH dikenal sebagai pendatang dari desa lain yang gigih mendirikan lembaga pendidikan Islam berbasih NU. Rupanya kesuksesan AH ini membuat sakit hati beberapa pemilik lembaga lain yang dikelola oleh orang-orang dari ormas diluar NU.

Sejumlah tokoh masyarakat dan pengurus NU di Pulau Sapeken mengatakan, AH sebenarnya pendatang di Sapeken yang kemudian mendirikan lembaga pendidikan Islam berbasis nahdiyin (sebutan untuk pengikut NU). Sementara di Pulau tersebut mayoritas pengikut Persis (Persatuan Islam).

Beberapa literatur yang dilansir MaduraExpose.com menerangkan, Persis atau Persatuan Islam merupakan ormas keagamaan yang berdiri pada 12 September 1923. Ormas ini menjalankan Islam secara murni berdasarkan Al Qur an dan Hadits, dimana kegiatannya meliputi tabligh, penerbitan pamplet, majalah, buku dan institusi-institusi pen-didikan. Tokohnya yang terkenal A. Hassan dan sekarang dipimpin oleh Drs. M. Siddiq Amin.

“Kasus yang menimpa Ustadz Achmad Holla ini penuh rekayasa. Buktinya, kepolisian tidak bisa menjelaskan proses penahanan terhadap terduga. Apalagi kasusnya sudah terjadi bulan September 2014 dan sudah diselesaikan secara adat, karena yang bersangkutan memang tidak bersalah. Pihak perempuan sudah pernah memberikan pernyataan secara tertulis jika dirinya tidak dicabuli”, ujar salah satu tokoh masyarakat Pulau Sapeken kepada MaduraExpose.com sambil mewanti-wanti identitasnya disembunyikan.

Tokoh paling berpengaruh di Pulau Sapeken ini meminta Polres Sumenep segera membebaskan Ustadz Achmad Holla karena dinilai tidak prosedural. Pihaknya meyakini, bahwa kasus yang menimpa AH penuh dengan rekayasa dan dendam Pilkades, termasuk antar Ormas yang sejak awal sering mengarah pada persaingan yang tidak sehat.

“Ini kasus delek aduan, bukan pidana murni. Kenapa Ustadz ditahan hanya berdasarkan keterangan sepihak dari pelapor yang tidak jelas. Indikasinya, yang melaporkan kasus tersebut bukan dari orang yang merasa dirugikan. Tapi polisi melakukan penahanan”, imbuhnya lagi.

Tokoh berpengaruh asal Sapeken ini juga mengaku sudah menelpon pihak Kapolsek Arjasa dan pihak Polres terkait bukti apa yang dijadikan alasan kepolisian melakukan penahanan terhadap tokoh NU dikepulauan tersebut. Ia menduga, kasus yang menimpa AH tak lain karena imbas politik Pilkades dan kesenjangan antara pengikut ormas di Sapeken.

“Kami menduga ada diskriminasi luar biasa terhadap tokoh NU oleh kelompok Persis di Pulau Sapeken. Sejak dulu, di Sapeken itu yang terkenal dua ormas, yakni NU dan Persis”, tandasnya.

Dalam waktu dekat, lanjut dia, pengurus NU di Pulau Sapeken akan mengeluarkan pernyataan sikap yang intinya meminta pihak Polres Sumenep segera membebaskan Ustadz Achmad Hollah yang menjadi korban fitnah.

Pihaknya juga meminta aparat tidak gegabah dalam menangani kasus yang menyeret sosok Ustadz Achmad Hollah, karena dikhawatirkan akan semakin memperuncing ketegangan pengikut NU dan Persis yang selama ini cenderung tidak akur.

Sementara Humas Polres Sumenep, AKP Jaiman hingga berita ini diturunkan belum juga memberikan keterangan apapun. Bahkan konfirmasi via SMS yang dikirim belum juga direspon.

(Lis/Fer)