Siswa Mts Pondok Pesantren Robin Sumenep (Ilustrasi/net)

Oleh:
Oktavia Nurul Hikmah, S.E

Pengasuh MT Remaja Kedamean Gresik, Jawa Timur

TAKRIF santri oleh KH Hasani Nawawie “Berdasarkan peninjauan tindak langkahnya adalah orang yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan mengikuti sunnah Rasul serta  teguh pendirian. Ini adalah arti dengan bersandar sejarah dan kenyataan yang tidak dapat diganti dan diubah selama-lamanya. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui atas kebenaran sesuatu dan kenyataannya” (sidogiri.net).

Kedalaman makna santri tersebut terinternalisasi dalam diri kaum muda Islam di Indonesia, sejak dulu. Para santrilah yang menyambut pekik takbir para kyai dan ulama, yang menyeru umat untuk berjuang melawan penjajahan. Semata-mata demi keridhoan Allah SWT yang memerintahkan untuk melawan kedzaliman dan mempertahankan hak.

Para santrilah yang berdiri paling depan dalam memberantas kemaksiatan. Tak gentar berhadapan dengan pelaku kebathilan. Semata-mata untuk menjalankan perintah Rabbnya dalam amar makruf nahi munkar.

Santrilah yang paling ridha merasai kesulitan menuntut ilmu. Memangkas jam tidur, menjalani kehidupan sederhana, rela berpisah dari keluarga. Semata-mata untuk menjalankan perintah Allah untuk tholabul ilmi.

Santrilah yang paling menjaga adab. Lisannya terjaga, tindak tanduknya terpelihara, bathinnya dipenuhi dzikrullah. ialah yang paling besar penghormatannya pada guru dan orang tua. Manusia di sekitarnya aman dari tangan dan lisannya. Tingkah lakunya menyenangkan dan menenteramkan. Sebagai buah dari kesadaran, bahwa Rasulullah lah sebaik-baik teladan, akhlaknya adalah Al Quran.

Itulah santri hakiki. Yang mengejar ilmu bukan sekedar eksistensi diri. Yang menghafal Quran bukan sekedar untuk penghormatan. Yang tak hanya menjaga diri dari keharaman, namun juga dari kesia-siaan.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Itulah santri hakiki. Yang menjauhi dunia dan merapat ke akhirat. Yang senantiasa menjaga kejernihan pikirnya. Ia tak mudah melakukan amal, sebelum memastikan hukum syariatnya. Ia mendekat kepada Allah agar tak salah mengambil tindak.

Bukanlah santri hakiki. Ia yang gegabah menegakkan amal. Padahal mudharat dan keharaman bertebaran. Laki-laki dan perempuan, satu berjalan satunya di atas tunggangan. Tak khawatirkan pihak ketiga menyatroni hati yang rawan. Biarpun adegan, bukankah kelak ia mewujud tuntunan bagi yang menyaksikan?

Bukanlah santri hakiki. Ia merasa telah membantu membersihkan citra Islam yang telah diburamkan dengan tuduhan radikal dan intoleran. Namun amalnya membahayakan. Ia langkahkan kaki dengan tumpeng di tangan. Setapak demi setapak menuju jajaran pendeta di sebuah gereja. Pembelaan membabi buta. Tanpa sadar menabrak rambu iman dan menyesatkan khalayak ramai. Apalagi publik telanjur mengenalnya sebagai hafidzah Quran dan putri ustadz kenamaan. Adegan yang merupa hantaman fitnah atas Islam. Naudzubillah.

Bukanlah santi hakiki. Ia yang tunduk patuh atas tuntutan pasar. Tak mendetili akibat aktivitasnya bagi penonton yang menyaksikan. Gimmick bertebaran di sosial media, semata-mata untuk melancarkan pemasaran filmnya.

Duhai, tidakkah ini akhir zaman yang dikabarkan Sang Junjungan? Ketika haq dan bathil mencampur hingga sulit dibedakan. Maksiat dibungkus kemasan Islami, mengaburkan nilai kejahatannya. Fitnah berhamburan tak terkendali. Namun, di masa seperti inilah pahala berada di puncaknya. Yaitu, ketika manusia bertahan dengan ketaatan di tengah gempuran fitnah dunia. Ia istiqamah di jalan dakwah sekalipun kebanyakan manusia mengutuk dan mencelanya. Ia tak ragu menyampaikan yang haq dan tak gentar mengecam yang bathil. Duhai pemuda, engkaulah santri yang sesungguhnya? Kamu, iya kamu, insya Allah.*