H. Yusuf Husni Syakir, Apoteker yang jadi politisi gaeknya Golkar Jatim.

Oleh krt. Masjhur Assaaf HN (wartawan Senior).

Di tengah tantangan Demokrasi Pancasila dalam dekade ke dua abad 21 ini, memang dinamika politiknya makin bergejola (berwarna) dan dinamis, apalagi di tahun 2020 ini akan tergelar Pilkada Serentak (simultan) di seluruh Indonesia yang jumlahnya 270 daerah dalam rincian 9 provinsi, 224 kabupaten dan 37 kota (wikipedia), khusus di Jatim termaktuf sekitar 19 di kabupaten & kota.

Pada sisi lain, PG (Partai Golkar) memaknai dengan menggelar revitalisasi organisasi lebih dulu melalui musda-musda (musyawarah daerah) sembari menentukan jago – jago di Pilkada, untuk inilah PG Jatim mengawali Musda di hotel Utami Sidoarjo pada tanggal 5-7 Maret 2020 yang berlangsung dinamis dan sukses dengan mengamanati HM. Sarmudji selaku Ketua PG Jatim periode 2020-2025 secara aklamasi bulat, hari Jumat Legi di malam hari (6/3).

Nah, pasca terpilihnya Sang Ketua Golkar Jatim HM. Sarmudji itu, Ketua Kosgoro ’57 H. Yusuf Husni Jatim berkisah dalam kontekstual proloog tata personalitas kepengurusan PG Jatim 2020 – 2025, khusus terkait pula eksistensi (keberadaan) Hasta Karya Jatim ini agar menjadi sumber utama kadernya partai berlambang Pohon Beringin Sakti (Wingit & Gegirisi) ini yang bermakna eksplisit pula meliputi:
Rasa Persatuan yang Utuh Kuat, Kompak dan Teguh dalam menghadapi silih bergantinya jaman maupun pemerintahan itu sejak 1964.

Dari pernik-pernik sejarah pendirian (Khittah) Golkar yang melawan secara simultan musuh besarnya dan bebuyutan hingga era now adalah komunism, korupsi dan oligarki totaliter ini dengan tanpa pula melupakan akar kulturalnya sehingga PG yang punya akar tunjang sekaligus akar serabut itu mesti dipahami oleh para pemangku Hasta Karya dengan memberikan kader-kader mumpuni dan terbaiknya bagi PG untuk ikut merancang, mengonsep kinerja sebagai program baku setelah Pertanggung Jawaban Kepemimpinan PG Jatim era kemarin yang diterima dengan tulus dan legowo ini namun terkait Peran maupun Tatanilai Strategis dari Hasta Karya itulah Cak Haji Ucup, panggilan akrabnya tokoh gaek PPM (Pemuda Panca Marga) Jatim di kalangan wartawan, seniman dan budayawan cukup populer itu ia pun sangat berobsesi banget supaya Hasta Karya dalam membuka formasi barisan dan strateginya yang diejawantahkan dalam konsolidasi dan sistematik fungsionalisme para kader andalan dari Hasta Karya ini tentunya diharapkan konkrit kristalisasi dari hasrat dan semangat kebersamaan para kadernya Hasta Karya itu yang tentu pula berkemauan keras dan berkelanjutan yang akan menandai sukses kemenangan di Pilkada 2020 dan akan disusul pula kejayaan sebagai partai pemenang no wahid di tahun 2024, dan Moga juga Presidennya pun dari Golkar.

Oleh sebab, lanjut Cak Haji Ucup, saya pengalaman empiris yang cukup pahit diterimanya ini lantaran belum berhasil dalam memperjoangkan aspirasinya Pimpinan Hasta Karya kala itu (Musda PG di Singgasana) dan ia tidak ikut membubuhkan tanda tangan selaku formatur dari pihak jajaran Hasta Karya ini lantaran konstruksi kepengurusan PG Jatim berbeda jauh dengan aspirasi Hasta Karya yang mencakup MKGR, Kosgoro ’57, SOKSI, KPPG, AMPI, HWK, Alhidayah, MDI dan Satkar Ulama, waktu itu.

“Saya dan Hasta Karya Berharap bahwa sejarah kurang manis ditunjukkan oleh formatur itu tidak terulang lagi, agar Hasta Karya bersemangat dalam memaknai fungsi maupun eksistensinya di dalam ikut aktif dan efektif dalam memajukan Golkar, khususnya di Jatim yang tahun ini 2020 menghadapi gawe akbar demokrasi berupa Pilkada Simultan di 19 daerah kota & kabupaten seluruh Jatim.

“Dan saya yakin, jika aspirasi Hasta Karya ini terulang pahit, misalnya, akan tetap ditandatangani oleh formatur dari utusan Hasta Karya,” sentil Cak Haji Ucup yang juga Ketua Alumni Keluarga EX – Pasukan Samber Nyawa di Jatim.

Namun, ia buru-buru bertutur terkait alasan tidak bertanda tangan sebagai salah satu formatur dari 5 elemen personil formatur yang diamanati oleh Forum Musda PG Jatim 2020 ini.

Saya jelaskan, kata Cak Haji Ucup, yang menyadari dan memahami rasa tanggung jawab selaku mandatarisnya Hasta Karya ini sangat berat banget.
“Saya tidak ingin mengkhianati pemberi mandat, meski resikonya tidak masuk dalam struktur kepengurusan PG,” jelasnya serius, Rabu Legi (11/3/2020).

Dan ia memang tidak kenan tanda tangan, untuk menjaga secara konsekuen amanah yang diembannya. “Inilah cerminan dan sikap yang tidak mementingkan kepentingan pribadinya,” tandas mantan anggota DPRD Jatim ini, meski hal itu sangat memungkinkan sebagai formatur untuk menempatkan dirinya di posisi yang diinginkan.

Namun disadari bahwa dalam dinamika politik itu, kerap terjadi jika harapan tidak sesuai kenyataan (the real politic) meski ia sangat tidak suka bila ada yang berkhianat di internal PG, khususnya Hasta Karya, karena akan timbul kontra produktif sehingga PG pun akan rugi dalam merealisasi target atawa capaiannya yang telah dirancang sebagai bagian Program Kerja Golkar Jatim dalam songsong nokta-nokta kemenangan nan gemilang.[]